Minggu, 10 April 2011

Loloh Daun CemCem, Pelepas Dahaga


Keanekaragaman hayati di muka bumi ini memberikan banyak kemudahan bagi umat manusia. Ketersediaanya berlimpah di alam seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Kita mengenal yang namanya tanaman herbal, yaitu jenis-jenis tumbuhan yang memiliki khasiat obat. Banyak kita jumpai disekitar kita seperti daun kayu manis, daun jintan, daun kemangi, daun dadap yang hanya dengan cara menumbuk atau merebus langsung bisa dimanfaatkan. Terlebih di Negara tropis seperti Indonesia, tentu menyimpan banyak tanaman herbal yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat keluarga (toga).
Di Bali sendiri masih banyak tersimpan tanaman herbal dan masih banyak pula masyarakat yang menggunakannya sebagai obat. Seperti halnya di Desa Blongbang Bangli Bali, ada jenis tanaman Cemcem yang dimanfaatkan daunnya sebagai loloh (jamu). Pohon yang mirip dengan pohon kedondong tapi tak berbuah ini dimanfaatkan daunnya untuk diminum sebagai pencegah penyakit dalam. Menurut Jero Pitarsi (43th), yang sudah sejak tiga tahun lalu berjualan loloh cemcem, rasa asli daun ini adalah sangat masam. Hampir tidak bisa dirasakan oleh masyarakat awam sehingga untuk menetralkan rasa ditambahkan sedikit garam. Namun, pintarnya Jero Pitarsi melihat peluang pasar sehingga loloh cemcem ini dijualnya dengan menambahkan air dan sedikit daging kelapa muda. Tak ketinggalan pula cabai dan terasi bakar yang sudah dihaluskan atau bisa disebut rujak cemcem.
Kebiasaan masyarakat Bangli mengkonsumsi loloh cemcem tak lepas dari keberadaan tanaman herbal ini sangat banyak.”Tanpa menanam, kita bisa mengambilnya di kebun karena tanaman ini biasa tumbuh liar. Hanya dipetik daunnya tak terlalu banyak, besok bisa tumbuh lagi,”ungkap Jero Pitarsi bersemangat. Hal ini turut membantu perekonomian ibu-ibu disekitar rumah Jero Pitarsi karena permintaan loloh cemcem sudah banyak sehingga membutuhkan daun cemcem dalam jumlah banyak. Terlebih, loloh ini sudah dijual hingga Gianyar dan juga Denpasar sehingga sudah banyak masyarakat di luar Bangli menjadikan loloh cemcem ini sebagai minuman favorit. Rasanya yang manis, asam dan pedas membuat segar tenggorokan apalagi jika diminum dalam keadaan dingin.
Cara pembuatannya pun sangat mudah, ungkap Jero Pitarsi, daun cemcem dicuci bersih kemudian diremas atau dihaluskan dan ditambahkan air hangat sesuai kebutuhan. Jika ingin rasa asli cukup ditambahkan garam tapi jika ingin membuat rujak bisa ditambahkan terasi dan cabai. Meskipun rasa asam yang kuat, tapi jika meminum loloh ini penderita maag tak perlu takut yang penting sudah makan. Menurut Jero Pitarsi, loloh daun cemcem ini dapat membantu menurunkan tensi, melancarkan pencernaan juga baik untuk ibu menyusui.” Setiap hari Minggu selalu membuka stand di taman wisata Kertalangu. Selain dijual sendiri dan memenuhi pesanan kadang juga iku meramaikan pameran,”pungkas Jero Pitarsi.

Pura Agung Jagatnata Saksi Perjalanan Kota Denpasar

 
Provinsi Bali identik dengan kota Denpasar, kota yang menawarkan berbagai kenikmatan baik untuk wisatawan maupun penduduk asli. Namun bagi wisatawan asing, kota Denpasar bukan merupakan pilihan yang menarik untuk berlibur. Tak banyak keindahan alam terpampang disana tapi sebagai pusat hiburan Denpasar tak kalah ingar binger dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bali yang disebut sebagai pulau seribu Pura pun menawarkan wisata budaya peninggalan arsitek kuno. Termasuk Denpasar yang juga mempunyai banyak situs sejarah warisan leluhur, salah satunya adalah Pura Agung Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar.
Jantung kota Denpasar berada di Jalan Gajah Mada, selain sebagai pusat pemerintahan juga sebagai pusat perdagangan. Pada awalnya, Denpasar merupakan pusat pendidikan, banyak pelajar yang datang dari seantero Bali sejak pusat pemerintahan dipindahkan ke Denpasar. Kegiatan terpusat di Denpasar dan muncullah pemikiran untuk membuat satu tempat suci yang terpusat agar mudah untuk melakukan persembahyangan di rahinan besar seperti purnama dan tilem. Sehingga tidak perlu memuja dari merajan masing-masing, tentu ini akan merepotkan bagi perantau karena tidak efektifnya waktu. Ditambah lagi adanya himbauan dari Parisadha pusat yang mengumandangkan lahirnya Puja Tri Sandhya, yaitu bersembahyang tiga kali sehari. “Maka timbul pertanyaan dari tokoh-tokoh agama dimana masyarakat Denpasar yang dominan pendatang ini bersembahyang,”ungkap Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha M.Si
Dari pertanyaan itu, muncullah ide dari tokoh-tokoh agama tersebut untuk membuat pura yang universal. Yaitu, lanjut Direktur Pasca Sarjana UNHI ini, pura yang diperuntukkan memuja Tuhan tanpa melihat silsilah, keturunan atau wangsa dan menjadi pura sungsungan jagat, siapa saja bisa dan boleh bersembahyang disana. Tercetusnya ide ini juga melihat adanya lahan kosong yang tepat berada di pusat kota dan saat itu hanya digunakan sebagai tugu peringatan. Kebetulan, beber Prof. Gunadha, lahan itu milik Kodam kemudian ide dari tokoh agama ini diajukan pada pertemuan dengan masyarakat sekitar yang dihadiri pula Mayor Ida Bagus Pinda. Yang kemudian Mayor Ida Bagus Pinda menghadap Kolonel Supardi untuk membahas masalah penggunaan lahan kosong milik Kodam. Kemudian proposal pembangunan disetujui oleh Brigjen Sukertya karena Kolonel Supardi keburu dipindah tugaskan. “Sejak tahun 1964 perintisan pembanguan pura ini dimulai dan Mayor Ida Bagus Pinda yang menjadi ketua panitianya,”sebut Dosen yang juga Guru Besar di UNHI ini.
Selain Mayor Ida Bagus Pinda, banyak tokoh penting sebagai penggagas pembangunan pura ini seperti Ida Bagus Putu Meregeg nama dari Ida Pedanda Gede Manuaba Sidhanta saat walaka. Yang kemudian menjadi pemangku Pura Jagatnatha dan pedanda hingga lebar pada tahun 2009. Juga I Gusti Ngurah Ketu sebagai ketua panitia pelaksana dan perencanaan pembangunan pura, juga I Gusti Ketut Anggara sebagai sangging (arsitek) pembangunan pura. Proses perjalanan panjang pembangunan pura ini dirasakan warga sekitar pura, dimulai penyuluhan tokoh agama dan tokoh masyarakat Denpasar tentang fungsi dibangunnya pura. Setelah mereka mengetahui tujuan dibangunnya pura ini sebagai sungsungan jagat, masyarakat pun berbondong-bondong membantu pembangunan pura. Tak hanya masyarakat sekitar tapi juga mengerahkan tenaga dari pelajar dari PGA, IHD untuk mengumpulkan batu. Pengalaman ini dirasakan juga oleh Ida Pedanda Istri Oka, putri dari  Ida Pedanda Gede Manuaba Sidhanta yang saat itu juga masih berstatus sebagai mahasiswi. “Pembangunan pura ini dilakukan secara gotong royong, kami harus mengambil batu hingga ke Sempidi,”ungkapnya.
Dalam rapat pertemuan antara tokoh agama, tokoh masyarakat adat terjadi perdebatan panjang pemberian nama pura yang akan digunakan sebagai tempat pemujaan seluruh umat. Akhirnya disepakati nama Jagatnatha, yang artinya jagat adalah dunia dan natha adalah pemimpin. Yaitu menstanakan Tuhan dalam manifestasinya sebagai penguasa dunia, yang dipersempit menjadi stana Tuhan sebagai penguasa pemerintahan karena pada waktu itu pura Jagatnatha berada di pusat pemerintahan. Sebagai arsitek I Gusti Ketut Anggara yang berasal dari Belong, Denpasar merancang pura berbentuk padmasana dan menggunakan batu putih. Kini rancangan padmasana dengan batu putih sudah dipakai dimana-mana sehingga Pura Jagatnatha menjadi yang pertama. Dengan konsep padmasana, jelas Prof. Gunadha, umat menyembah Tuhan secara vertical yaitu kepada Ida Shang Hyang Widi Wasa. Jadi semua umat Hindu dari kasta mana saja, strata social apapun bisa bersembahyang di Pura Jagatnatha. “Konsepnya berbeda dengan pura desa, dalem dan puseh yang dibangun untuk menstanakan Tuhan secara horizontal,”lanjutnya.
Perjalanan pembangunan pura juga mengalami berhenti total karena pada saat itu,ungkap Prof. Gunadha, sedang terjadi pergolakan politik. Sehingga peletakan batu pertama tahun 1964 berjalan perlahan karena sistemnya gotong royong hingga tahun 1967. Berhenti satu tahun karena pergolakan politik dan baru satu tahun kemudian bisa berjalan lagi. Pada akhirnya tahun 1975 sudah berwujud pura dan dilakukan pemlaspas alit kemudian tahun 1978 seluruh bangunan pura selesai dan dilakukan Ngeteg Linggih dan Nanem Pedagingan. “Uniknya dari pembangunan sampai akhir, sangat sedikit biaya yang dikeluarkan dalam bentuk uang. Dan itu pun dana dari pemerintah karena sebagian besar adalah dana punia masyarakat yang tidak hanya bentuk uang tapi juga tenaga, waktu dan barang. Seperti warga bukit pecatu yang menyumbangkan batu putih sebagai bahan dasar pembangunan pura ini. Juga dengan emas yang dijadikan Chyntia merupakan yadnya dari pedagang diseluruh pasar Badung,”tegas Prof. Gunadha yang saat itu bertindak sebagai ketua pelaksana karya Ngeteg Linggih Pura Jagatnatha tahun 1978.
Seiring perkembangan Pura Jagatnatha, awalnya sangat ramai karena menjadi sentral tempat persembahyangan umat Hindu di Denpasar. Pura Jagatnatha sering digunakan oleh kaum cerdik cendekia untuk melakukan aktivitas Nyastra, yaitu aktivitas yang berhubungan dengan dunia seni dan sastra. Seperti diskusi sastra, membaca sloka, mekidung, menggiatkan karya seni seperti megambel, menari tapi kini kegiatan itu sudah tidak ada lagi. Karena masing-masing sekolah sudah mempunyai padmasana sendiri sehingga Pura Jagatnatha hanya digunakan pada saat rahinan purnama, tilem dan hari raya besar. “Diharapkan kegiatan seperti itu tetap dilaksanakan agar anak muda jaman sekarang tetap pada jalan Darma dan Ajeg Bali tetap bisa dipertahankan. Ajeg Bali agar tidak dimulut saja tapi benar-benar dijalankan oleh semua kalangan masyarakat,”harap Prof. Gunadha yang berasal dari Tabanan ini.

Tak Perlu Puasa Demi Dapatkan Tubuh Ramping

Penampilan menarik menjadi hal yang utama bagi sebagian orang terlebih bagi mereka yang bekerja dengan bertemu banyak orang. Segala perawatan dilakukan, keluar masuk salon kecantikan dan pusat kebugaran demi mendapatkan tubuh ramping dan menarik. Bahkan tak cukup perlakuan itu, banyak dari mereka yang berpuasa dan membatasi masuknya asupan makanan. Banyak pihak melirik peluang ini karena hampir sebagian masyarakat ingin mendapatkan bentuk tubuh juga wajah seperti artis idola mereka di layer kaca. Produsen obat pun tak henti-hentinya menggencarkan promosi obat diet dengan segudang khasiat namun masih perlu jeli melihat dampak yang ditimbulkan.
Mekanisme tubuh dalam mencerna makanan yang masuk sudah dirancang sedemikian rupa. Sehingga bagi seseorang yang ingin mendapatkan tubuh ramping tapi tidak makan berjam-jam dan membatasi asupan makanan justru merugikan tubuh. Hal ini, menurut dr. Ossyris Abubakar, M. Biomed., pakar kesehatan yang berkonsentrasi pada anti aging, puasa diluar konteks menjalankan ibadah agama sangat merugikan. Mekanisme pencernaan makanan akan bekerja dan mengosongkan lambung dalam waktu empat sampa enam jam. Jika tidak ada asupan makanan yang masuk setelah mekanisme tersebut dapat merangsang naiknya asam lambung. Maka muncullah sakit maag dan jika sudah terkena akan sulit bagi seseorang untuk lepas karena kebiasaan makan yang tidak teratur. Dan hal ini berpengaruh pula bagi otak, harusnya jika teratur makan glukosa akan teratur pula dikirim ke otak. “Nah, jika perut kosong maka glukosa tidak akan sampai ke otak. Hal ini dapat memicu kelambatan memori atau daya pikir selain itu bisa menyebabkan dehidrasi dan kurang gizi,”terang dokter Osi, sapaan akrabnya.
Diet yang sehat, lanjutnya, seharusnya bukan tidak makan sama sekali atau membatasi makanan yang masuk karena itu salah kaprah. Konsumsi makanan tetap tiga kali sehari dan diisi waktu makan camilan hanya saja perlu diperhatikan makanan yang masuk. Batasi garam, gula, karbohidrat dan minyak karena keempat hal ini yang menyebabkan mekanisme kerja lambung terganggu. Makan tetap tiga kali, porsi nasi dikurangi perbanyak sayur lauk nabati dan hewani pilihan juga wajib makan buah. Camilan yang masuk juga jangan kue kering atau snack ringan tapi pilih buah, kedelai rebus, kacang rebus atau pisang rebus. Jangan lupa dengan konsumsi air putih yang seimbang, minimal dua liter per hari. Hitungan keseimbangan diet sehat yaitu menjaga asupan seperti 50% karbohidrat, 10-15% protein seimbang (nabati dan hewani), kurang dari 30% lemak (batasi konsumsi daging merah dan goring-dorengan karena ini lemak jenuh yang jahat), perbanyak buah dan sayur tinggi serat dan minum sukup air putih. “Porsi vitamin dan mineral cukup dari buah dan sayur, tak perlu konsumsi suplemen berlebihan. Terpenting jangan lewatkan sarapan,”beber dokter yang membuka praktek di rumahnya di Jalan Seroja gang Nyuh Gading No. 9 Denpasar.
Pentingnya asupan gizi yang masuk harus disadari oleh masyarakat, makan bukan hanya mengenyangkan dan memilih yang enak tapi enak di mulut saja. Karena itu, diet tidak perlu mati-matian sampai puasa tidak makan berjam-jam kecuali memang untuk ibadah. Pada saat tidak makan tersebut ada mekanisme balas dendam dalam tubuh. Artinya setelah kita tidak makan, ada rasa lapar dan semua makanan yang ada asal kita makan dan ini memperberat kerjalambung untuk mencerna. Akibatnya asam lambung kembali naik dan banyak yang teserap akhirnya menumpuk menjadi lemak dan tersimpan pada bagian tubuh tertentu. “Selain memperhatikan asupan makan, pola istirahat dan pola olah raga teratur perlu diperhatikan. Olah raga minimal dua hari sekali selama 30 menit, lebih baik olah raga seperti renang, senam lantai atau bersepeda,”pungkas ibu dua anak ini menutup wawancara.

Sindrom Stevenn Johnson

Kesehatan mahal harganya. Ungkapan itu memang benar, jika kita sakit maka biaya yang dikeluarkan untuk berobat sangat besar. Tidak hanya kita saja yang sakit, tapi orang disekitar kita juga ikut menderita karenanya. Jika kita sakit pun tidak boleh mengkonsumsi obat sembarangan, yang bebas dijual di pasaran. Harus diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan obat yang aman. Kalau ada alergi pada obat tertentu, ada baiknya jika memberitahu dokter, agar dipilihkan jenis obat yang tidak menimbulkan alergi bila dikonsumsi.
Alergi sebenarnya adalah respon tubuh untuk menanggapi suatu keadaan yang terjadi dalam tubuh, yang biasanya terkena paparan allergen atau zat toksik yang mengganggu keseimbangan system imun tubuh kita. Efek alergi ini yang paling memberikan respon adalah kulit. Karena kulit adalah bagian yang paling nampak dari tubuh kita. Gejala pada kulit bermacam-macam variasi bentuknya, dari yang berupa bintik-bintik kecil kemerahan sampai kulit melepuh seperti luka bakar. Penyakit yang ditimbulkan oleh alergi obat ada bermacam-macam seperti gatal-gatal dikulit yang kadang juga berisi cairan, bibir dan mata kemerahan dan bias meleuas keseluruh tubuh. Alergi pada obat tidak sama pada semua orang, tergantung pada kekebalan tubuh masing-masing. Reaksi ini dapat disebabkan oleh obat seperti aspirin, indometacin, penicillin, penggunaan antibiotika, penurun panas, anti kejang, obat penyakit jiwa dan jamu.
Menurut Dr. Laksmi Duarsa,Sp.KK, gejala tersebut diatas dapat digolongkan pada Sindrom Steven Johnson. Sindrom tersebut merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir mata dan selaput lendir mulut. Karenanya bisa menyebabkan komplikasi berupa radang kornea (keratitis), menyerang bagian dalam bola mata bahkan sampai berakibat kebutaan. Selain itu, bisa juga menyebabkan hepatitis, nephritis (radang ginjal), perdarahan salura cerna, arthritis (radang sendi) dan pneumonia. “Jika terlambat penanganannya, pasien akan mengalami kematian. Karena banyak kehilangan cairan dan gangguan keseimbangan elektrolit,”ungkap ibu tiga anak ini.
Gejala awal Sindrom Steven Johnson memang sulit dibedakan dengan gejala sakit radang tenggorokan seperti biasa. Seperti demam tinggi, nyeri kepala, batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan pernafasan serta perasaan malas. Kemudian disertai degan timbulnya trias kelainan pada kulit, selaput lender dan mata. Jika timbul alergi dan perasaan tidak enak setelah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, segera periksakan lagi ke dokter. Agar penanganannya lebih dini sehingga tidak menimbulkan keparahan lebih lanjut. Setelah alergi dapat diobati dan dinyatakan sembuh, harus lebih dijaga konsumsi obat-obatannya. “Meskipun sudah sembuh, kulit akan tetap berwarna cokelat kehitaman. Tetapi masih bisa diterapi dengan penanganan secara kosmetik,”pungkas istri dari dr. Yoga Bharata, Sp.BKBD ini.


Minggu, 13 Februari 2011

Teh Hitam, Pekatnya Meluruhkan

Siapa tak kenal minuman teh??? Sebagian besar masyarakat, terlebih di Indonesia terbiasa mengkonsumsi teh baik dalam bentuk irisan daun teh yang dikeringkan maupun dalam kondisi serbuk yang tinggal dicelupkan. Kebiasaan masyarakat minum teh dalam kondisi apapun membuat banyak produsen berlomba-lomba membuat minuman siap saji berbahan baku teh. Jika ditilik dari segi kesehatan, teh siap saji dengan menggunakan pemanis buatan dan serbuk aroma teh bukan dikonsumsi untuk menyehatkan. Hanya sebagai pelepas dahaga dan itu memberatkan kerja ginjal untuk menyaring residu yang terkandung didalamnya.
Berbeda dengan masyarakat yang mengkonsumsi teh sebagai minuman kesehatan, benar-benar mencari kualitas teh terbaik. Tak banyak masyarakat mengenal teh hitam, teh hitam lebih teroksidasi daripada ragam teh hijau, oolong dan putih; keempat varietas itu terbuat dari daun Camellia sinensis. Teh hitam umumnya lebih berasa seleranya dan lebih banyak mengandung kafein daripada teh yang tak teroksidasi. Zat aktif yang disebut Catechinlah yang menjadi jagoannya. Dari sekian ratus kandungan kimia di dalam teh, zat aktif satu inilah yang paling hebat. Antioksidan catechin dalam proses pembuatan teh hitam, akan dirubah menjadi Theaflavin sehingga penikmat teh dapat merasakan perbedaan kesegaran rasa dan warna yang mencolok yakni kemerahan. Sebagai informasi, antioksidan dikatakan bermanfaat dalam mencegah penyakit jantung dan stroke serta penyakit degeneratif lain karena mampu menghambat oksidasi kolesterol jahat
Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ali Khomsan MS mengemukakan, teh hitam (black tea) juga berkhasiat sama seperti teh hijau karena kandungan radikal bebas yang terkandung di dalamnya. "Memang benar teh hitam mempunyai manfaat seperti menurunkan risiko kanker, mencegah jantung koroner, mencegah penuaan, dan juga bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah," kata Prof Dr Ali Khomsan. Sedangkan menurut salah seorang pakar kesehatan jantung dari Kota Hujan Bogor, Dr H Mohammad Taufik SpJ mendukung pendapat Prof Dr Ali Khomsan yang menyebutkan teh hitam bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke. Sayangnya, menurut Taufik, manfaat yang terkandung dalam meminum teh hitam belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi maupun publikasi dari berbagai penelitian tentang manfaat black tea bagi kesehatan.
Banyaknya kelebihan mengkonsumsi teh hitam, membuat Abbas, pengembang teh hitam, terpacu untuk memperkenalkan secara luas keunggulan teh hitam. Melalui penelitian panjang dan birokrasi berbelit lebih dari empat tahun, akhirnya produksi teh hitam Mind Tea mulai diakui dan mengantongi ijin BPOM. Bahkan, kini sudah bekerjasama dengan yayasan Jantung Sehat Indonesia untuk memasarkan dan menyebarkan informasi tentag teh hitam Mind Tea. Menurut Abbas, Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai produsen teh terbanyak nomor lima di dunia. Namun teh hitam Indonesia berdasarkan penelitian, mengandung theaflavin yang lebih tinggi dibandingkan Jepang maupun China. Dengan demikian, jika kita meminum teh hitam asli Indonesia, kecenderungan mencegah penyakit jantung koroner seperti yang disebutkan di atas makin tinggi. Sayangnya hal ini belum banyak diketahui oleh bangsa Indonesia sendiri.
Keunggulan Mind Tea, lanjutnya ampas teh setelah diseduh dapat digunakan sebagai masker wajah. Karena menyeduh teh hitam Mind Tea cukup sekali dan hanya menggunakan air panas bersuhu 80 derajat, bukan mendidih sehingga kandungan antioxidannya masih terkandung diampasnya. Fungsi sebagai minuman kesehatan, membuat Mind Tea hanya boleh diseduh sekali dan ditunggu dalam waktu 15 menit kemudian lngsung diminum tanpa tersisa. Budidaya teh hitam dilakukan secara organic dari pemilihan bibit hingga perawatan dan pengolahan menjadi teh siap konsumsi, membuat harga teh hitam lebih mahal dari teh kemasan siap pakai yang lain. “Hal ini tak menjadi hambatan untuk masyarakat yang ingin kembali sehat. Pekatnya teh hitam mampu meluruhkan racun dalam tubuh,”pungkasnya.

Bengkel Kreatif Daur Ulang Sampah

Penumpukan sampah menjadi tanggung jawab bersama karena munculnya sampah adalah sebab dari budaya konsumtif manusia. Tak hanya sampah organik yang dihasilkan baik skala rumah tangga hingga skala besar yang melibatkan perusahaan, hotel dan restaurant. Sampah non organik yang tak dapat terurai bahkan hingga ratusan tahun menjadi kambing hitam dari munculnya perubahan iklim yang terjadi di dunia ini. Sudah banyak kalangan baik perseorangan maupun kelompok mengubah sampah organk yang mudah terurai oleh bakteri pathogen dalam tanah didaur ulang menjadi pupuk kompos. Tapi masih sedikit pihak yang peduli pada pengolahan sampah non organic dan mengubahnya menjadi barang yang lebih berguna.
Proses pengolahan sampah non organic seperti kaca, plastik, besi, tembaga, kaleng, kardus, kertas hingga tekstil menjadi barang lebih bermanfaat disebut daur ulang. Secara garis besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan pemrosesan material baru untuk proses produksi. Daur ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa didegradasi oleh alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan. Kepedulan Made Bagiada pada tumpukan sampah di bank sampahnya ngn mengubah sampah tak berguna menjadi barang yang mempunyai harga. Sejak Nopember 2010 dbangunnya bengkel kreatif yang menggunakan sampah non organic sebagai bahan dasar.
Ide awal pembangunan bengkel sampah ini terbersit dari Walikota Denpasar, IB. Rai Dharmawijaya Mantra saat meresmikan bank sampah milik Bagiada. Bermodal awal 10 juta diubahnya halaman samping rumah Bagiada menjadi bengkel sampah dan memfaslitasi remaja untuk berkreasi dengan sampah. Persiapan bahan dasar, yaitu sampah non organik hingga semua alat-alat yang diperlukan dlakukannya dengan pemikran matang. Menjadikan bengkel sampah tempat mencurahkan ide-ide kreatif remaja dari sekolah menengah, anak kampus bahkan karyawan yang ingin berkreasi. Tak ada batasan dalam pembuatan barang daur ulang sampah karena ide kreatf itu menurut Bagiada bisa muncul sewaktu-waktu. Barang kerajinan yang dihasilkan bengkel sampah milik Bagada seperti kap lampu, frame foto, tempat kaset hingga minatur sepeda dan sepeda motor.
Sejak berdri hingga sekarang bengkel sampah ini sudah beberpa kali mengikuti pameran, dari Festival Serangan hingga Denpasar Festival yang berlangsung belum lama ini. Banyak kreasi yang dihasilkan sepuluh tenaga kreatif yang menyumbangkan ide pembuatan barang daur ulang ini. Dan, ungkap Bagiada, hampir semua barang kreasi dari bengkel sampah habis terjual. Jka tdak ada pameran, barang daur ulang kreas dari sampah itu dibiarkan menumpuk di bengkel sampah. Karena Bagada belum mempunyai gerai sendiri untuk memajang hasil kreasi bengkel sampah di tempat lain. Meski begtu, ada juga yang mencari barang daur ulang langsung ke bengkel sampah dan tetap dilayani. “Senang melihat remaja punya kesibukan yang positif dan menghasilkan uang dari keringat mereka sendiri,”ungkap Bagiada bangga.
Membuatkan tempat untuk anak-anak berkumpul dan menikmati waktu mereka sebagai remaja merupakan tujuan awal Bagiada membuat bengkel sampah ini. Lebih baik, lanjutnya, mengumpulkan mereka jadi satu tempat dan menjembatani ide mereka untuk berkereasi. Hal itu terlihat dari fasilitas free Wi-Fi, yaitu layanan internet tanpa kabel gratis di setiap sudut rumah Bagiada. Keuntungan yang diperoleh anak-anak dari hasil kreasi daur ulang sampah tak dinikmat sendri oleh Bagiada. Malah diberikan semua kepada mereka sebagai hasil jerih payah, meskipun tak seberapa tap sebagai wujud menghargai mereka. “Saya hanya menekankan dan mengajarkan kepada anak-anak untuk berkreasi mengolah sampah tak berguna menjadi barang bernilai dan berguna bagi masyarakat. Sehingga mereka semakin peduli lingkungan dan belajar berbisnis,”pungkas Bagiada.

Bank Sampah, Kumpulkan Sampah Jadi Uang

Permasalahan utama tingkat rumah tangga hingga lingkungan sekitar adalah sampah. Pesatanya pertumbuhan penduduk di muka bumi berbanding lurus dengan penumpukan sampah. Terlebih ditambah kemunculan plastik dalam setiap aspek kehidupan membuat sampah non organik ini semakin mencemari lingkungan. Kesadaran masyarakat membuang sampah masih minim memunculkan gunungan sampah di setap sudut kota tak terhindarkan. Imbauan pemerintah untuk membedakan pembuangan sampah organik dan non organik tak mendapat respon masyarakat.
Pembedaan pembuangan sampah ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengolahan sampah di tingkat pembuangan akhir (TPA). Sampah organik dapat dimakan ternak yang disiapkan di tempat pembuangan akhir, tapi untuk sampah non organik seperti plastik dan kaleng tak dapat lapuk. Sehingga perlu pembedaan pembuangan agar dapat diolah kembali menjadi barang lain. Di Bali, khususnya Denpasar, sampah menjadi momok paling menakutkan pemerintah kota karena sudah tak ada lagi tempat luas untuk menumpuk sampah. Akbatnya berceceran sampah-sampah di pinggir jalan yang menyebabkan genangan air dimana-mana. Tak ada yang peduli dengan menumpuknya sampah ini, kecuali Made Bagiada (52 tahun).
Bergelut dengan sampah, menurut bapak tiga anak ini merupakan upaya untuk menjadi berguna bagi masyarakat disekitarnya. Terngiang masalah sampah yang ditayangkan di berbagai media membuat Made Bagiada memutuskan untuk membangun Bank Sampah. Total luas lahan 20 are yang dimilikinya di Jl. Noja Sari Denpasar, hanya digunakan 2 are untuk membangun tempat tinggalnya. Sisa lahan digunakannya untuk menumpuk sampah non organik seperti plastik, kertas, kardus, besi-besi tua hingga kaleng. Tak berlebihan jika tempat tinggalnya dijuluki istana sampah. Dedikasinya untuk memerangi sampah, membantu pemerintah mengelola sampah non organik dimulainya dengan membangun Bank Sampah bulan September 2010 lalu. “Inginnya belajar tentang pembuatan dan pengelolaan bank sampah ini di Jogjakarta, tapi ternyata tak ada yang bisa ditanya. Akihrnya saya putuskan pulang dan membangun bank sampah sependek pengetahuan saya,”ungkap Made Bagiada.
Metode pengumpulan sampah non organik khususnya membidik kalangan rumah tangga dimaksudkan agar sampah jangan sampai keluar dari rumah. Dikumpulkan sedikit demi sedikit baik perorangan maupun per banjar kemudan dibawa ke bank sampah untuk ditimbang. Sehingga tak perlu pergi ke TPA untuk membuang sampah. Menurut Bagada, harga yang ditetapkan dari timbangan sampah dimasukkan ke dalam buku tabungan dan bisa dambil sewaktu-waktu. Jika ingin uang hasil pengungumpulan sampah diambil saat itu juga bisa. Dengan membuka bank sampah memudahkan masyarakat membuang sampah non organiknya disamping itu bisa mendapatkan uang dari sampah. Dalam satu hari, bank sampah UD. Cahaya Partha Jaya menerma lebh dar 5 ton sampah organik.
Sampah identik dengan kotor dan bau, meski begitu, bank sampah milik Bagiada selalu dikunjung banyak orang dari kalangan menengah ke bawah hingga pembesar. Bagi masyarakat kelas atas terkadang, uang yang ditabung tidak ditarik dan dibiarkan mengendap di bank sampah. Bank sampah juga melayani peminjaman modal usaha tapi khusus untuk pengumpul sampah yang rutin mengumpulkan setiap hari. Tak hanya sampah organk rumah tangga saja, bahkan Bagada sudah menyasar beberapa sekolahan di seputaran kota Denpasar untuk ikut andil dalam pengumpulan sampah. Seperti SMP 8 Denpasar yang per minggunya bisa mengumpulkan 200-250kg sampah non organik. Hasil penjualannya dimasukkan ke dalam tabungan dan digunakan sebagai kas sekolah. Hal ini menurut Bagiada adalah caranya untuk mendidik tunas bangsa peduli lingkungan, belajar menabung dan melirik ada peluang bisnis dari sampah.
Naik turunnya harga sampah organik dipasaran ditingkat pabrik menjadi santapan sehari-hari Bagiada. Jika sekiranya harga menurun, terpaksa sampah ditumpuk hingga harga merangkak niak tapi jika terlalu menumpuk minimal satu truk sampah dalam satu hari harus keluar dari gudang. Berpengaruh juga dalam pemasukan pengumpul sampah namun sejauh ini masih dimaklum oleh nasabahnya kecuali para pemulung yang juga menjadi pelanggannya. Ada pelanggan yang suka rela membawa sampahnya ke bank sampah ada pula yang dilanyani antar jemput tapi khusus pelanggan di seantero Denpasar. Khusnya sekolah, sedikt atau banyak sampah yang terkumpul selalu dilayani antar jemput. Hal ini, lanjut Bagiada adalah untuk memberikan penghargaan pada siswa yang peduli pada sampah agar lebh rajin membantu mengumpulkan sampah. “Tak hanya masyarakat Denpasar, bahkan ada yang dari Gianyar dan Karangasem membawa sendri sampahnya kemari. Sudah lebih dari seratus orang anggota nasabah bank sampah dan saya berharap akan terus bertambah,”harap pria jebolan Universitas Jayabaya ini.