Minggu, 10 April 2011

Waspadai Kanker Leher Rahim


Kanker leher rahim (kanker servik) merupakan pembunuh perempuan terbanyak di dunia. Beragam sosialisasi tentang penyakit ini kerap dihelat. Namuan angka kematian atau jumlah penderita semakin menjadi. Ironisnya, meski menjadi pembunuh utama bagi wanita, tetapi penaganan terhadap kanker rahim belum menjadi prioritas. Kepekaan wanita yang masih kurang untuk memeriksakan rahim sejak dini, menjadi penyebab kanker leher rahim tidak dapat ditangani sejak awal sehingga berakibat fatal. Penyakit rahim ini lebih banyak menyerang wanita pada usia 40 tahun keatas. Perubahan prilaku anak muda jaman sekarang mengakibatkan kanker leher rahim juga mendera usia muda antara 20-30 tahun.
Gejala awal kondisi pra-kanker umumnya ditandai dengan ditemukannya sel-sel abnormal serviks yang dapat ditemukan melalui tes Pap Smear. Karena sering kali kanker servik tidak menimbulkan gejala. Namun, bila sel-sel abnormal ini berkembang menjadi kanker serviks barulah muncul gejala-gejala pendarahan pada vagina yang tidak normal. Seperti, pendarahan diantara periode menstruasi yang regular, periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya dan pendarahan setelah berhubungan seksual. Rasa sakit juga akan muncul pada saat berhubungan seksual dengan pasangan. “Pemeriksaan pap Smear ataupun colopscopi yang dapat mendeteksi kanker servik pada stadium awal sangat diperlukan. Karena penyakit ini dapat diobati jika dalam stadium awal. Minimnya pengetahuan dan rasa takut kerap membuat pasien datang pada stadium akhir. Hal ini  membuat sel kanker telah menyebar sehingga sulit untuk ditanggani, ”kata dr. Wayan Kesumadana, SpOG.
Lebih dari 95 persen dari kanker serviks disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai Human Papilloma Virus (HPV). HPV dapat menginfeksi semua orang, karena HPV dapat menyebar melalui hubungan seksual. Mereka yang berhubungan seksual pada usia sangat muda (dibawah usia 20 tahun) serta sering berganti pasangan seksual, memiliki resiko tinggi untuk terkena infeksi HPV. Saat ini, kaker serviks dapat dibantu dicegah dengan pemberian vaksin yang memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV. “Prilaku seks dengan multiplel mitra seks, pemakaian bahan kimia menjadi faktor resiko terjadinya kanker servik. Agar terhindar dari kanker servik harus menjahui faktor resiko itu sendiri. Pemeriksaan sejak dini kandungan akan mencegah tumbuhnya kanker leher rahim,” jelas dr. Kesumadana.  
Kanker leher rahim pada dasarnya 100% dapat diatasi  jika terdeteksi sejak dini.  Tapi kebanyakan pasien datang sudah masuk ke stadium lanjut. Karena kanker servik stadium dini tidak kelihatan gejala penyakitnya, maka tidak banyak yang menyadari jika rahimnya terinfeksi. Penyebab dari penyakit para wanita ini selain disebabkan virus human paviloma, juga karena  pemakaian bahan kimia, radiology dan biologi agent. Atau dapat disebabkan karena operasi Caesar, keguguran, kelahiran yang susah atau waktu kelahiran diperpanjang dapat merusak vagina. Pemberian gurah juga dapat memicu.
Pemeriksaan Pap Smear dapat dilakukan 10 hari setelah haid serta saat melakukan Pap Smear 24 jam tidak boleh berhubungan terlebih dahulu.  “Harapan hidup untuk penderita tingkat satu mencapai 75%, tingkat dua 50%, untuk tingkat tiga 30% dan 7% untuk stadium akut. Jika terdeteksi sejak awal ada gangguan di dalam vagina ataupun rahim  maka harapan hidup lima tahun dapat 100% dicapai,” tutur Direktur RS Kasih Ibu ini.    

Tak Perlu Puasa Demi Dapatkan Tubuh Ramping

Penampilan menarik menjadi hal yang utama bagi sebagian orang terlebih bagi mereka yang bekerja dengan bertemu banyak orang. Segala perawatan dilakukan, keluar masuk salon kecantikan dan pusat kebugaran demi mendapatkan tubuh ramping dan menarik. Bahkan tak cukup perlakuan itu, banyak dari mereka yang berpuasa dan membatasi masuknya asupan makanan. Banyak pihak melirik peluang ini karena hampir sebagian masyarakat ingin mendapatkan bentuk tubuh juga wajah seperti artis idola mereka di layer kaca. Produsen obat pun tak henti-hentinya menggencarkan promosi obat diet dengan segudang khasiat namun masih perlu jeli melihat dampak yang ditimbulkan.
Mekanisme tubuh dalam mencerna makanan yang masuk sudah dirancang sedemikian rupa. Sehingga bagi seseorang yang ingin mendapatkan tubuh ramping tapi tidak makan berjam-jam dan membatasi asupan makanan justru merugikan tubuh. Hal ini, menurut dr. Ossyris Abubakar, M. Biomed., pakar kesehatan yang berkonsentrasi pada anti aging, puasa diluar konteks menjalankan ibadah agama sangat merugikan. Mekanisme pencernaan makanan akan bekerja dan mengosongkan lambung dalam waktu empat sampa enam jam. Jika tidak ada asupan makanan yang masuk setelah mekanisme tersebut dapat merangsang naiknya asam lambung. Maka muncullah sakit maag dan jika sudah terkena akan sulit bagi seseorang untuk lepas karena kebiasaan makan yang tidak teratur. Dan hal ini berpengaruh pula bagi otak, harusnya jika teratur makan glukosa akan teratur pula dikirim ke otak. “Nah, jika perut kosong maka glukosa tidak akan sampai ke otak. Hal ini dapat memicu kelambatan memori atau daya pikir selain itu bisa menyebabkan dehidrasi dan kurang gizi,”terang dokter Osi, sapaan akrabnya.
Diet yang sehat, lanjutnya, seharusnya bukan tidak makan sama sekali atau membatasi makanan yang masuk karena itu salah kaprah. Konsumsi makanan tetap tiga kali sehari dan diisi waktu makan camilan hanya saja perlu diperhatikan makanan yang masuk. Batasi garam, gula, karbohidrat dan minyak karena keempat hal ini yang menyebabkan mekanisme kerja lambung terganggu. Makan tetap tiga kali, porsi nasi dikurangi perbanyak sayur lauk nabati dan hewani pilihan juga wajib makan buah. Camilan yang masuk juga jangan kue kering atau snack ringan tapi pilih buah, kedelai rebus, kacang rebus atau pisang rebus. Jangan lupa dengan konsumsi air putih yang seimbang, minimal dua liter per hari. Hitungan keseimbangan diet sehat yaitu menjaga asupan seperti 50% karbohidrat, 10-15% protein seimbang (nabati dan hewani), kurang dari 30% lemak (batasi konsumsi daging merah dan goring-dorengan karena ini lemak jenuh yang jahat), perbanyak buah dan sayur tinggi serat dan minum sukup air putih. “Porsi vitamin dan mineral cukup dari buah dan sayur, tak perlu konsumsi suplemen berlebihan. Terpenting jangan lewatkan sarapan,”beber dokter yang membuka praktek di rumahnya di Jalan Seroja gang Nyuh Gading No. 9 Denpasar.
Pentingnya asupan gizi yang masuk harus disadari oleh masyarakat, makan bukan hanya mengenyangkan dan memilih yang enak tapi enak di mulut saja. Karena itu, diet tidak perlu mati-matian sampai puasa tidak makan berjam-jam kecuali memang untuk ibadah. Pada saat tidak makan tersebut ada mekanisme balas dendam dalam tubuh. Artinya setelah kita tidak makan, ada rasa lapar dan semua makanan yang ada asal kita makan dan ini memperberat kerjalambung untuk mencerna. Akibatnya asam lambung kembali naik dan banyak yang teserap akhirnya menumpuk menjadi lemak dan tersimpan pada bagian tubuh tertentu. “Selain memperhatikan asupan makan, pola istirahat dan pola olah raga teratur perlu diperhatikan. Olah raga minimal dua hari sekali selama 30 menit, lebih baik olah raga seperti renang, senam lantai atau bersepeda,”pungkas ibu dua anak ini menutup wawancara.

Tawur Kesanga Rangkaian Upacara Pembersihan Jagat Sambut Tahun Baru

 
Umat Hindu sebentar lagi akan memasuki tahun baru Caka 1933 yang jatuh pada tanggal 05 Maret 2011, Saniscara Paing Wuku Menail. Kemeriahan menyambut Nyepi, seperti pembuatan ogoh-ogoh dimasing-masing banjar sudah terlihat dari beberapa waktu lalu. Ibu-ibu dan para wanita sudah sibuk mempersiapkan aneka jajan banten, jejahitan hingga pakaian yang akan digunakan untuk bersembahyang menyambut Nyepi. Pedagang bunga, buah, janur, perlengkapan banten hingga kue turut merasakan semarak pergantian tahun.
Secara harfiah, Nyepi bersangkutan dengan siklus hidup dari waktu ke waktu. Dalam satu siklus selalu bertemu pada titik 0 (nol) dan pada saat itulah disebut Nyepi atau sepi. Karena, menurut Drs. I Wayan Suka Yasa, M. Si, dosen senior Fakultas Ilmu Agama UNHI, pada titik nol merupakan titik balik, titk perhentian dari perjalanan kemarin mempersiapkan perjalanan berikutnya. Dan setelah melewati titik nol, esoknya kita akan memulai lagi dari angka baru yaitu satu dan sering kita menyebutnya dengan tahun baru Caka. “Apakah kita bisa memaknai moment pergantian itu dengan benar-benar tauakah hanya sekedar numpang lewat? Semua tergantung pada individu masing-masing,”lanjut ayah tiga orang putra ini menegaskan.
Dalam kurun perjalanan waktu, orbit makro dan mikro (bumi dan makhluk hidup yang ada didalam bumi) terjadi dinamika hidup ada sisi positif dan ada sisi negatifnya. Untuk itu, serangkaian upacara dilaksanakan oleh umat Hindu sebelum memfokuskan diri pada titik nol atau Nyepi. Seperti upacara Melasti yang dilaksanakan sebelum upacara puncak Nyepi yaitu Pengrupukan atau satu hari sebelum Nyepi. Melasti ditujukan untuk membersihkan pratima atau benda yang disakralkan, mengawali perayaan Hari Suci Nyepi. Sifat negative dilambangkan dengan wujud-wujud demonis, sifat negative itu yang berada didalam diri manusia seperti ambisi, keinginan berlebih, iri hati, mabuk, rakus, bingung hingga gelap mata. “Hal ini disebut dengan Sad Ripu atau enam musuh yang ada dalam tubuh manusia, dan itu harus dikendalikan,”terang pengasuh mata kuliah Kesusasteraan Hindu di UNHI.
Jika musuh dalam diri tersebut dibiarkan tidak dikendalikan maka dapat menyebabkan kemerosotan moral dan rusaknya kehidupan bermasyarakat. Seperti saat ini semakin banyaknya orang-orang bermental korupsi, perang saudara dimana-mana hingga kerusakan alam yang disebabkan kesalahan manusia dan akibatnya menyengsarakan manusia itu sendiri. Sehubungan dengan Hari Suci Nyepi, sifat-sifat buruk ini hendaknya dileburkan dan dikendalikan agar tidak mengikuti lagi ditahun berikutnya. Dan sifat buruk itu diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh, yaitu boneka besar dan digambarkan sesuai dengan sifat negative manusia. Sifat pemarah digambarkan dengan mata ogoh-ogoh yang melotot, kuku yang panjang, urat leher keluar, badan kekar, gigi bertaring dan bentuk wajah yang menyeramkan. “Seiring perkembangan jaman, ogoh-ogoh mulai muncul bervariasi. Karena tidak ada pakem khusus dalam pembuatan ogoh-ogoh. Sehingga kehadirannya merupakan ide kreatifitas seseorang dan bentuk apapun tidak salah,”sebut Wayan Suka Yasa tegas.
Fungsi ogoh-ogoh adalah sebagai ekspresi jiwa yaitu sifat-sifat negative manusia. Oleh karena itu, ogoh-ogoh mengandung banyak nilai, yaitu nilai filosofis, psikologis, sosial dan estetik. Sebagai nilai filosofis bersangkutan dengan perwujudan dari panca maha bhuta. Nilai psikologis melambangkan ekspresi jiwa dekontruktif. Nilai sosial yaitu nilai kebersamaan dan adanya interaksi juga integrasi masyarakat terbangun. Nilai estetik yaitu adanya tampilan-tampilan seni yang berifat khas Bali, karena tidak ada tempat lainyang membuat sama satu dengan yang lain. Mempunyai ciri khas satu kota dengan kota lain di Bali.
Sifat buruk itu harus disomya atau diruwat atau lebih dikenal dengan dibersihkan agar kembali ke jati dirinya menjadi lebih baik lagi. Dan pada saat Pengrupukan atau Ngerupuk, ogoh-ogoh ini diarak dan diberikan sesuatu yang dapat menyadarkan sifat buruk itu, yaitu dengan caru. Saat pecaruan ini, mengundang semua bhuta kala dari sembilan penjuru arah mata angin, maka disebut dengan Tawur Kesanga. Secara harfiah caru yang disajikan berupa makanan enak untuk bhuta kala, artinya agar saat orang haus diberi minum, orang lapar diberi makan dan orang yang marah diberikan kasih. Sehingga nanti pada saat umat melaksanakan brata penyepian bhuta kala ini dapat dikendalikan dan pada tahun yang baru kita tidak lagi dipengaruhi sifat buruk. Dan ogoh-ogoh setelah diberikan caru hendaknya dipralina karena ada upacara pemanggilan bhuta kala itu tadi. Tapi untuk ogoh-ogoh komersial atau dengan tujuan pameran dan pengenalan budaya tanpa ada pemanggilan maka tidak harus dipralina.
Proses pengrupukan dimulai dengan menghaturkan caru dan disertai dengan membunyikan bunyi-bunyian berbagai alat. Alat itu sederhana saja, seperti bambu, tutup panci, kayu atau apa saja yang dipukul mengeluarkan bunyi. Tujuannya, ungkap Wayan Suka Yasa, adalah untuk mengundang bhuta kala dari sembilan penjuru agar turut menikmati caru yang disajikan. Bunyi-bunyian itu juga disertai dengan membawa sapu dan api yang disimbolkan dengan daun kelapa kering yang dibakar, berfungsi utnuk mengusir atau menyuruh bhuta kala itu kembali setelahmenikmati caru. Proses pencaruan ini dilakukan dengan berkeliling disegala penjuru rumah dan halaman. Diikuti pula dengan suara teriakan yang berarti pelampiasan emosi, secara psikologis setelah melepaskan emosi seseorang akan menjadi tenang dan siap menyambut hari  Suci Nyepi esoknya.
Pembersihan tidak hanya pembersihan diri namun juga membersihkan alam lingkungan kita agar siap juga menghadapi Nyepi. Bagi jiwa dan pikiran, dengan ajaran agama seseorang akan menjalankan dharma. Orang yang mau belajar agama tentu akan tumbuh kesadaran spiritual bahwa misalnya marah adalah buruk dan jika dibiarkan tidak dikendalikan maka akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Ciri penyadaran itu adalah api, makanya ogoh-ogoh setelah dicaru dan diarak harus dibakar begitu juga dengan manusia harus bertapa untuk dapat mengendalikan sifat buruk. Pada titik nol, hari Nyepi seseorang harus bertapa dan menetapkan dalam bentuk janji dan brata itulah janji yang harus dilakukan agar mencapai kesempurnaan. Janji juga dapat disebut dengan pengekangan atau pengendalian diri yaitu melaksanakan brata penyepian. Ada empat brata penyepian yang harus dilalui, yaitu amati geni (tidak menghidupkan api), amati lelungan (tidak bepergian), amati kalanguan (tidak menikmati yang indah) dan amati karya (tidak bekerja).
Amati geni atau yang lebih diingat dengan tidak menghidupkan api. Artinya tidak menghidupkan lampu, penerangan dalam bentuk apapun juga api dalam arti mengekang nafsu birahi (sex). Amati lelungan tidak bepergian kemana-mana artinya tidak keluar dari pekarangan rumah. Karena jika bepergian saat kita harus bertapa dan melakukan yoga atau meditasi maka pikiran juga tidak tenang, akan jauh keluar dari hakikat sepi. Amati kalanguan artinya tidak menikmati segala sesuatu yang indah-indah, kenikmatan duniawi akan mengganggu fokusnya pikiran sehingga tapa tak akan berhasil. Seharusnya kita juga tidak menikmati makanan, karena makanan adalah kenikmatan duniawai. Amati karya atau tidak melakukan segala aktifitas fisik, artinya kita diharapkan benar-benar diam tidak bekerja agar dapat merefleksikan dirinya. Tidak melakukan ktifitas bertujuan agar kita dapat memikirkan langkah pertama yang harus kita lakukan pada tahun yang baru, yang akan kita songsong esok hari.
Melaksanakan brata penyepian pada titik nol mengharuskan lingkungan sekitar benar-benar sepi, untuk itu Nyepi alangkah baiknya jika disebut Hari Suci Nyepi bukan Hari Raya Nyepi. Karena pada hakikatnya, manusia harus mulat sarira dengan cara yoga dan meditasi. Yaitu menghubungkan diri pada Tuhan untuk memohonkan kerahayuan tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk masyarakat luas dan bumi tempat kita berpijak. Setelah merenung pada Hari Suci Nyepi, esoknya orang harus kembali ke alam nyata memulai hari baru di tahun yang baru. Lebar atau selesai melakukan tapa brata penyepian dilaksanakanlah Ngembak Nyepi. Ngembak yang berarti ceria atau riang atau penuh kasih, diartikan sehari lepas Nyepi orang-orang harus kembali menyambut haribaru dengan penuh kegembiraan, penuh kasih dengan sesama dan alam semesta. Alangkah baiknya jika saling kunjung mengunjungi dan memanfaatkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar. Sebagai wujud shanti atau saling memaafkan agar setiap hari dapat berhubungan dengan penuh kasih. 
Pelaksanaan Hari Suci Nyepi tidak lagi sesui dengan pakem ajaran agama, sebagian besar masyarakat hanya melaksanakan sekedar ceremony belaka. Dilaksanakan hari ini dengan pesta meriah, berjudi, minum-minum dan esoknya kembali lagi seperti hari sebelumnya. Tidak ada bedanya melewati Nyepi kemarin dengan Nyepi tahun ini. Peningkatan kesadaran masyarakat sangat diperlukan melihat kondisi lingkungan dan alam terkini, karena jika bukan kita maka siapa yang akan peduli dengan alam semesta ini. Peranan pemuka agama menjadi penting untuk membimbing umat agar kembali pada hakikat manusia yang hidup untuk menunggu ajal menjemput. Jika menjalankan hidup dengan penuh kesadaran berbagi pada sesama dan alam semesta maka proses penantian itu akan indah.

POTADS Bali Terus Berupaya Menjadi Sahabat Terbaik

KEHADIRAN anak dalam keluarga menjadi dambaan setiap pasangan yang baru menikah. Menunggu munculnya tanda-tanda perubahan fisik karena ada makhluk sedang bertumbuh di rahim menjadi sesuatu yang sangat diamati. Terkadang kekecewaan didapati saat tanda-tanda itu belum muncul tapi akan jadi kebahagiaan jika ternyata ada awal kehidupan telah bersemi. 
Dianugerahi anak adalah kebahagiaan yang tak terhingga terlebih bagi seorang ibu yang berjuang dan berusaha memberikan yang terbaik untuk jabang bayi. Lantas, bagaimana jika buah hati yang didambakan sudah hadir namun tidak sesuai yang kita inginkan. Penerus keturunan yang ditunggu terlahir dengan keistimewaan yang lebih dari bayi pada umumnya. Dengan predikat cacat, idiot, gangguan mental dan masih banyak lagi yang disandangkan orang kebanyakan pada bayi tak berdosa itu. Namun Tuhan tentu mempunyai rahasia dengan memberikan anak istimewa kepada kita.

Menghadapi kelahiran anak tidak normal dengan kelainan tertentu baik fisik maupun genetiknya perlu dukungan dari banyak pihak. Karena hal itulah, menurut Sophia Buksh (35), salah satu penggagaas berdirinya POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome) Bali dibutuhkan pendampingan pihak-pihak yang peduli pada pertumbuhan anak-anak istimewa tersebut.

Ingin Berbagi
Lembaga swadaya yang menjadi wadah berkumpulnya orangtua yang memiliki ADS (Anak Down Syndrome) ini lebih dulu muncul di Jakarta, atas prakarsa Noni Fadhilah (40) dan mulai berjalan sejak Mei 2000. Wadah ini dibangunnya lebih untuk kesadaran ingin berbagi dengan orangtua yang mempunyai anak DS. Karena Noni sendiri merupakan orangtua dengan anak ADS yang bernama Zeina Nabila (19) dan kini POTADS sudah memiliki cabang di Surabaya dan Medan. Tentu saja munculnya cabang adalah karena prakarsa kepedulian orang tua dengan ADS untuk bisa membagikan informasi dan dukungan kepada orangtua lain.

Serupa dengan POTADS Bali, mungkin tak banyak masyarakat di Bali khususnya Denpasar yang menyadari adanya komunitas ini. Kesadaran yang muncul karena Pia, sapaan akrab Sophia Buksh, mencari komunitas atau yayasan yang memberikan dukungan pada orangtua dengan ADS. Ibu dari Alysha (9) dan Tristan (7) yang lama menetap di Sydney Australia ini merasa membutuhkan dukungan baik untuk terapi, dokter spesialis hingga sekolah untuk Alysha yang sejak lahir diketahui DS.

Awalnya, lanjut istri dari Roger (51) ini hanya menemukan komunitas untuk ADS di Jakarta, lalu disarankan untuk membentuk komunitas yang sama di Bali dan tentu saja pasti ada juga orangtua dengan ADS. Terbukti, belum lama Pia pindah ke Bali langsung bertemu dengan Eveelen, Rinda dan Arie yang ketiga ibu ini juga punya putra putri dengan ADS. Keempat ibu hebat ini lalu mendukung penuh berkembangnya POTADS dan kini sudah ada 15 orang yang bergabung.

Terus Dikibarkan
POTADS Bali sudah berjalan satu tahun lebih, namun untuk perizinan mengesahkan menjadi cabang POTADS Jakarta sedang diusahakan. Tapi semangat menyebarkan informasi tentang keberadaan support DS terus dikibarkan, baik melalui pertemuan kecil untuk berbagi informasi dan perkembangan terapi hingga pengobatan terbaru. Maupun melalui pertemuan besar atau family gathering yang belum lama ini diadakan bertepatan dengan memperingati Hari Down Syndrom Sedunia pada 20 Maret 2011.

Acara yang melibatkan seluruh anggota keluarga POTADS Bali ini melibatkan juga Minikino yang memutarkan film pendek tentang ADS dan sharing bersama fisioterapist. “Pemutaran film yang sangat menggugah semangat orang tua untuk terus mendampingi ADS hingga mereka mandiri. Dan acara ini juga terjadi interaksi antara orangtua dan anak. Sedangkan diskusi kecil bersama fisioterapist tentang kendala yang dialami orangtua dengan ADS terutama masalah kelemahan tonus otot yang pada akhirnya mengakibatkan gangguan perkembangan motorik kasar. Semua orang tua yang bergabung di POTADS Bali merasa tidak sendiri lagi,” terang Pia.

Menurut Pia, tujuan dari kami melebarkan sayap informasi kepada masyarakat keseluruhan khususnya orangtua dengan ADS adalah untuk mengubah pemikiran tentang ADS bukan merupakan kutukan atau karma buruk. Tetapi bahwa anak yang dianugerahkan adalah titipan yang harus dijaga dan diperhatikan dengan baik. Bahwa saat ini orangtua dengan ADS masih banyak yang tidak menerima bahwa anak mereka berbeda dengan anak kebanyakan. Tak jarang anak-anak ini ditelantarkan begitu saja tanpa kasih sayang, terapi dan pengobatan yang sesuai. Padahal, sebut Pia, jika anak ini diberikan kesempatan memperoleh kesehatan dan pendidikan yang baik pasti akan bisa seperti anak-anak normal lainnya.

Masih Banyak Malu
Perjalanan panjang POTADS Bali mendata orangtua dan membantu orangtua dengan ADS untuk bersama-sama saling men-support kurang banyak mendapat perhatian publik. Masih banyak orangtua yang malu dipublikasi jika memiliki anak dengan DS padahal sebagian besar ADS membutuhkan bantuan baik biaya untuk operasi karena ADS memiliki penyakit bawaan seperti jantung bocor dan gangguan pernafasan.

Namun, ditegaskan Pia, POTADS Bali bukan penyalur therapist atau sekolah yang menerima ADS tapi hanyalah sebagai wadah untuk saling mensupport dan saling berbagi informasi saja. Jika ada orangtua dengan ADS memerlukan informasi tempat-tempat terapi, dokter spesialis maupun segala hal yang berhubungan dengan ADS, bisa menghubungi salah satu dari empat ibu hebat pendukung terbentuknya POTADS Bali.

Bersama Sophia Buksh (ketua), Eveleen (public relation), Rinda (bendahara) dan Arie (sekretaris) mengibarkan bendera support group untuk ADS. Banyak program yang dirancang untuk perkembangan informasi bagi orangtua belum terlaksana dengan baik. Karena selain sebagai ibu, mereka adalah wanita bekerja namun tetap memberikan banyak waktunya kepada sang buah hati. Seperti Rinda yang konsisten sekali dengan setiap detail pertumbuhan sang buah hati, Naomi (14 bulan) perhatian dari asupan makanan, terapi motorik kasar hingga terapi wicara intens dilakukannya.

“Semua orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Meskipun mereka terlahir istimewa tetap harus mendapatkan kasih sayang penuh. Sejak kecil diberikan pelatihan dan semua terapi, tak hanya yang berpunya yang dapat memberikannya tetapi terapi dari ibu maupun orang-orang terdekat ADS sangat membantu perkembangannya,” tegas ibu dari Arya dan Naomi ini turut diamini Pia. 

POTADS Bali
Ketua  :  Sophia Buksh (081236775603)
Sekretaris :  Arie (087777799689)
Bendahara  :  Rinda (08179716836)
Public Relation  : Eveleen (081558109229)
----------------

Kanker Usus Besar (Kanker Kolorektal) Seiring Bertambahnya Usia Semakin Waspada

Sebagai saluran terakhir pencernaan makanan, usus berpotensi terkena kanker dari makanan yang kita konsumsi. Paparan zat karsinogen yang terdapat pada pengawet dan pewarna makanan yang dikonsumsi manusia padahal tidak diperuntukkan sebagai bahan makanan. Zat karsinogen ini akan menyebabkan perubahan genetic. Sehingga tidak hanya orang yang mepunyai garis keturunan dengan kanker saja yang berpotensi terkena kanker. Orang sehat pun bisa terkena kanker usus besar (kanker kolorektal) ini jika asupan gizinya tak seimbang, kurang olah raga hingga gaya hidup tak sehat seperti merokok dan minum minuman beralkohol.
Didunia, kanker usus besar menduduki peringkat keempat sebagai pembunuh terbesar pada kaum laki-laki. Namun tak menutup kemungkinan wanita pun rentan terkena kanker ini dan seiring bertambahnya usia, potensi terkena kanker usus besar semakin meningkat. Pentingnya menjaga pola hidup sehat sejak dini sangat mempengaruhi kondisi tubuh kelak dikemudian hari saat usia tak lagi produktif. Menurut Dr. Jro Made Maitriya, SpPD, (62) specialist penyakit dalam dan juga dosen, asupan makan seperti lemak hewani dari daging merah dapat memperberat resiko terkena kanker colon. Peminum alcohol akan meningkatkan dua sampai empat kali lipat kejadian. Untuk mengurangi resiko, lanjut Maitriya, lebih baik menambahkan konsumsi makanan kaya serat seperti buah dan sayur juga konsumsi ikan laut yang mengandung asam folat tinggi.
Penderita tumor ganas (karsinoma recti) ini baru mengetahui adanya gejala yang menyertai berkembangnya sel-sel kanker yang berkembang biak didalam usus besar. Penyakit ini gejala awalnya kadang tak disadari sehingga banyak penderita yang datang dengan keluhan namun sudah masuk pada stadium lanjut. Kanker kolon dianggap sebagai penyakit yang perjalanannya lambat. Karena itu masyarakat dianjurkan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan darah yang ada dalam tinja dan kolonoskopi. Deteksi dini kanker kolon dianjurkan kepada mereka yang telah menginjak usia 50 tahun. Tetapi bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga pernah terkena kanker ovarium, kolon dan kanker paru, disarankan melakukan deteksi dini sebelum usia 50 tahun. Dengan deteksi dini dapat ditemukan adanya polip prakanker, yaitu suatu pertumbuan abnormal pada usus besar atau rektum yang dapat segera dibuang sebelum berubah menjadi kanker “Sebaiknya deteksi dini dilakukan sejak usia 40 tahun bagi yang memang memiliki riwayat ketiga jenis kanker tersebut dalam keluarganya,”terang ayah empat orang putra ini lebih lanjut.
Wajib mencermati perubahan yang terjadi dalam tubuh adalah salah satu upaya untuk deteksi dini secara konvensional. Salah satunya, menurut pria yang diusia lanjut masih memiliki segudang kegiatan praktek, adalah adanya rasa eneg atau mual pada perut sisi kiri bagian bawah. Ini akibat terjadinya penyumbatan saluran pencernaan bagian bawah baik parsial maupun komplit. Sehingga penderita akan mengalami mual-mual hingga muntah dan perut kembung. Gangguan BAB (buang air besar), kotoran sering lembek, berlendir dan mengandung sedikit darah. Jika sudah ada gejala tersebut segera dilakukan pemerikasaan laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap, pertanda tumor CEA, roentgen perut, colon enlup, CT Scan hingga colonoscopy. “Untuk mengetahui sejauh mana penyebaran atau luasnya dari kanker tersebut akan dilakukan biopsy (pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium) pada bagian tubuh yang dicurigai terkena kanker,”lanjutnya.
Dari hasil pemeriksaan patologi anatomi tersebut maka akan diketahui jenis kanker dan dimana saja penyebarannya. Sehingga memudahkan untuk dilakukan tindakan berikutnya. Jika memang sudah parah maka tindakan terakhir adalah operasi atau reseksi dari bagian usus yang sudah kena kanker. Dan untuk pembuangan kotoran sementara, dibuatkan dubur buatan yang melewati dinding perut pasien. Alangkah baiknya jika kita bisa mencegah sel-sel kanker dalam tubuh kita mengganas dan merugikan diri kita. Lebih baik memelihara tubuh agar tetap sehat dengan pola dan gaya hidup yang sehat. Terkait dengan riwayat keluarga, Anda tak perlu khawatir berlebihan jika berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker usus besar. Menurut Maitriya, faktor genetik memang bisa menjadi penyebab munculnya penyakit ini, tapi faktor tersebut bisa dipersempit. Caranya, ubahlah pola makan Anda dan lakukan deteksi dini. 

Desa Adat Sebagai Benteng Budaya Bali

Pulau Bali yang dikenal masyarakat luas hingga ke manca Negara adalah tempat wisata lengkap. Semua keindahan alam, budaya adat istiadat hingga kerajinannya ada dalam satu pulau kecil menjadikan daya tarik tersendiri untuk wisatawan mampir ke Pulau Seribu Pura ini. Tak hanya cukup sekali tapi bisa dipastikan mereka yang pernah datang ke Bali pasti ingin kembali merasakan wisata yang kental dengan spiritualnya ini. Sehingga jika ditilik dari data statistika pertambahan kunjungan wisatawan, pasti grafiknya naik dan semakin naik.
Tak dipungkiri pertambahan kunjugan wisatawan memberikan banyak keuntungan bagi pengelola bidang pariwisata. Namun ternyata tak semua keberuntungan itu dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Bali. Contohnya adalah masyarakat yang hidup didesa-desa, mereka yang masih menjaga tradisi budaya turun temurun dan juga lingkungannya tak bisa merasakan keberhasilan perkembangan pariwisata. Sehingga, menurut Henky Hermantoro, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Bali, pengaturan tata ruang desa sangat penting sebagai model pengembangan pariwisata berkualitas.
Henky menyebutkan jumlah penduduk miskin di Bali saat ini lebih banyak dari pada masyarakat dengan ekonomi menengah. Dan sebagian besar dari penduduk miskin tersebut sebanyak 64% mereka tinggal di pedesaan. Sayangnya dalam system perencanaan pengembangan pariwisata mereka hanya menjadi pelengkap kebijakan karena masyarakat desa tidak dilibatkan didalamnya. Terbukti dengan pembinaan dan pendampingan, lanjut Henky, sudah ada empat desa di Bali yang bisa dijadikan percontohan dalam hal desa wisata ekologis. Keempat desa ini adalah Tenganan Pegringsingan-Karangasem, Banjar Adat Kaidan-Badung, Dukuh-Sibetan Karangasem dan Nusa Ceningan-Klungkung. “Desa-desa ini sudah mempunyai kajian hukum dan ilmiah tentang penataan ruangnya. Dan mereka juga masuk dalam Jaringan Rkowisata Desa (JED). Sehingga keempat desa ini layak dijadikan percontohan desa wisata untuk seluruh Indonesia,”tutur Henky disela-sela acara Seminar dan Lokakarya (Semiloka), Rabu (23/3) kemarin yang mengambil tema “Mewujudkan Desa Berdaulat Dalam Pembangunan Wisata Melalui Penataan Ruang”. Acara ini didukung oleh Yayasan Wisnu, TIFA dan Bali Desa Wisata Ekologis (DWE).
Dalam kesempatan yang sama, I Gede Ardika, Ketua Pembina Bali DWE (Desa Wisata Ekologis) menyatakan bahwa sudah saatnya masyarakat pedesaan melalui Desa Pekraman harus menjadi desa yang berdaulat. Kerena peranan Desa Pekraman sangat besar, yaitu sebagai tulang punggung pokok yang menjadi benteng dan bisa memegang kendali dalam mengembangkan wisata budaya. Perkembangan wisata berbasis budaya yang dinikmati wisatawan kini sudah sangat pesat dan sudah saatnya untuk kesejahteraan masyarakat Bali. Kebudayaan Bali yang dimiliki masyarakat Bali dijiwai oleh Agama Hindu yang dalam perjalanannya memegang teguh prinsip ajaran Tri Hita Karana. Yang salah satunya adalah menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, artinya manusia tidak boleh serakah dalam memanfaatkan alam. “Manusia harus belajar berkata cukup, tidak perlu berlebihan. Karena yang berlebihan akan merusak,”tegas Ardika.
Seharusnya mulai ditekankan membangun Bali dengan mengangkat wisata budaya untuk sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat Bali. Bukan pariwisata yang menjadi benalu dan merugikan masyarakat Bali pada umumnya. Karena konsep pariwisata budaya adalah mengangkat keunikan sesuai dengan kelokalan namun diikuti dengan kemampuan memilih dan memilah juga mengelola informasi dari luar untuk perkembangan pariwisata. Bali kini, lanjut Ardika, harus mulai membatasi masuknya jumlah wisatawan karena Bali tidak bisa menerima wisatawan dalam jumlah tak terbatas. Jangan lagi mementingkan kuantitas atau seberapa banyak wisatawan yang masuk ke Bali jika factor pendukung masih seperti sekarang ini. Alangkah lebih baiknya jika memikirkan kualitas wisatawan yang masuk ke Bali, yang terpenting adalah aspek sosial budaya dan seberapa intens interaksi wisatawan dengan masyarakat sekitar. “Jangan sampai masyarakat Bali yang menggunakan air dalam segala aspek kehidupannya harus kehilangan sumber airnya. Karena Bali adalah agama tirta, jika sumber air musnah maka habislah Bali,”ujar Ardika melihat eksplorasi air berlebihan untuk dunia pariwisata belakangan ini.
Partisipasi masyarakat desa dalam pengembangan pariwisata budaya sangat dibutuhkan. Dalam semiloka yang dihadiri oleh ratusan peserta naik dari desa pekraman se-Bali, DPRD dan juga perwakilan pemerintah ini diharapkan partisipasi dalam mendukung wisata budaya ekologis. Paradigma yang relevan menurut Prof. Dr. I Gede Pitana, Kepala Badan Pengembangan Pariwisata, adalah dengan jalan ketiga yang terbaik, yaitu Eco Wisata untuk meningkatkan kualitas pariwisata sekaligus pelestarian lingkungan. Pariwisata menjadi bagian terintegral dengan budaya dan adapt istiadat sebelumnya. Sehingga dengan tata ruang ditingkat pedesaan yang sudah dimulai dan segera membidik desa-desa lain harus mempunyai asas legalitas dan didudukkan sebagai rencana rinci tata ruang pedesaan. “Untuk itulah kehadiran pemangku penting desa, yaitu Bendesa adat yang mewakili Desa Pekraman. Agar mulai tergerak dan mau membuat tata ruang desanya dan akan diketahui kelebihan dan keunggulan potensi desa yang mereka miliki,”pungkas Pitana.

Fungsi Keramik Bagi Kesehatan

Kini banyak dijumpai produk kesehatan yang berbahan dasar keramik. Hal ini karena kramik merupakan media yang sangat fleksibel, selain mudah dibentuk juga dapat berfungsi sebagai media kesehatan tubuh manusia.  Meski belum ada literature dan eksperimen yang berkemabang dalam menguji fungsi keramik sebagai mediator untuk kesehatan, namun telah banyak anggapan jika keramik dapat digunakan untuk kesehatan.
I Gusti A. Suradharmika, ST, Kepala UPT-PSTKP Bali yang merupakan anak perusahaan dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) di Jl. By Pass Ngurah Rai, Tanah Kilap, Suwung kauh, Denpasar, Bali, mengatakan jika kandungan keramik yang beragam memiliki fungsi untuk kesehatan. Melalui penelitihan dan pengembangan yang dilakukannya, ditemukan jika keramik memiliki hubungan dengan kesehatan. Salah satu sifat keramik yang forus atau memiliki lubang-lubang yang elastis dapat digunakan sebagai penyaring air yang kotor.  Air yang kotor seperti halnya di daerah tertinggal bisa bersih dan jernih berkat keramik. Bagi keramik yang modern, dapat digunakan sebagai inflantasi tulang buatan yang nantinya dapat dipakai ditubuh manusia sebagai penganti tulang yang retak atau hilang. Selain itu juga dapat digunakan sebagai membran untuk cuci darah. ”Selama ini, melalui penelitian yang dilakukan oleh rekan-rekan kami dipusat telah menemukan adanya fungsi lain dari keramik. Selain sebagai alat untuk membuat souvenir, keramik juga dapat digunakan untuk kesehatan. Keramik yang modern memiliki kemampuan untuk membran cuci darah dan sebagai inflantasi tulang buatan bagi tulang manusia. Namun saat ini memang uji inflantasi tulang buatan tersebut masih diujikan pada tulang tikus, yang memiliki struktur tulang hampir sama dengan manusia,” katanya.
Sementara hubungan keramik sebagai mediator gelombang elektromagnetik, Suradharmika mengkatakan masih belum dapat dipastikan secara ilmiah. Pengaruh keramik dalam mengantar gelombang elektromaknetik untuk kesehatan cukup kecil. Sebab kandungan didalam keramik  banyak didominasi oleh unsur besi, kalium, silikan, magnesium dan aluminium. Yang dalam 2 kali pembakaran, unsur organik telah mati dan menjadi unsur anorganik. ”Dalam kaitan keramik dengan kesehatan, penelitian yang kami lakukan belum sampai pada keramik sebagai media pengantar gelombang elektromagnetik. Dikarenakan dalam suhu 1250 molekul keramik yang organic berubah menjadi anorganik,” jelasnya. (nit)