Minggu, 10 April 2011

Kanker Usus Besar (Kanker Kolorektal) Seiring Bertambahnya Usia Semakin Waspada

Sebagai saluran terakhir pencernaan makanan, usus berpotensi terkena kanker dari makanan yang kita konsumsi. Paparan zat karsinogen yang terdapat pada pengawet dan pewarna makanan yang dikonsumsi manusia padahal tidak diperuntukkan sebagai bahan makanan. Zat karsinogen ini akan menyebabkan perubahan genetic. Sehingga tidak hanya orang yang mepunyai garis keturunan dengan kanker saja yang berpotensi terkena kanker. Orang sehat pun bisa terkena kanker usus besar (kanker kolorektal) ini jika asupan gizinya tak seimbang, kurang olah raga hingga gaya hidup tak sehat seperti merokok dan minum minuman beralkohol.
Didunia, kanker usus besar menduduki peringkat keempat sebagai pembunuh terbesar pada kaum laki-laki. Namun tak menutup kemungkinan wanita pun rentan terkena kanker ini dan seiring bertambahnya usia, potensi terkena kanker usus besar semakin meningkat. Pentingnya menjaga pola hidup sehat sejak dini sangat mempengaruhi kondisi tubuh kelak dikemudian hari saat usia tak lagi produktif. Menurut Dr. Jro Made Maitriya, SpPD, (62) specialist penyakit dalam dan juga dosen, asupan makan seperti lemak hewani dari daging merah dapat memperberat resiko terkena kanker colon. Peminum alcohol akan meningkatkan dua sampai empat kali lipat kejadian. Untuk mengurangi resiko, lanjut Maitriya, lebih baik menambahkan konsumsi makanan kaya serat seperti buah dan sayur juga konsumsi ikan laut yang mengandung asam folat tinggi.
Penderita tumor ganas (karsinoma recti) ini baru mengetahui adanya gejala yang menyertai berkembangnya sel-sel kanker yang berkembang biak didalam usus besar. Penyakit ini gejala awalnya kadang tak disadari sehingga banyak penderita yang datang dengan keluhan namun sudah masuk pada stadium lanjut. Kanker kolon dianggap sebagai penyakit yang perjalanannya lambat. Karena itu masyarakat dianjurkan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan darah yang ada dalam tinja dan kolonoskopi. Deteksi dini kanker kolon dianjurkan kepada mereka yang telah menginjak usia 50 tahun. Tetapi bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga pernah terkena kanker ovarium, kolon dan kanker paru, disarankan melakukan deteksi dini sebelum usia 50 tahun. Dengan deteksi dini dapat ditemukan adanya polip prakanker, yaitu suatu pertumbuan abnormal pada usus besar atau rektum yang dapat segera dibuang sebelum berubah menjadi kanker “Sebaiknya deteksi dini dilakukan sejak usia 40 tahun bagi yang memang memiliki riwayat ketiga jenis kanker tersebut dalam keluarganya,”terang ayah empat orang putra ini lebih lanjut.
Wajib mencermati perubahan yang terjadi dalam tubuh adalah salah satu upaya untuk deteksi dini secara konvensional. Salah satunya, menurut pria yang diusia lanjut masih memiliki segudang kegiatan praktek, adalah adanya rasa eneg atau mual pada perut sisi kiri bagian bawah. Ini akibat terjadinya penyumbatan saluran pencernaan bagian bawah baik parsial maupun komplit. Sehingga penderita akan mengalami mual-mual hingga muntah dan perut kembung. Gangguan BAB (buang air besar), kotoran sering lembek, berlendir dan mengandung sedikit darah. Jika sudah ada gejala tersebut segera dilakukan pemerikasaan laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap, pertanda tumor CEA, roentgen perut, colon enlup, CT Scan hingga colonoscopy. “Untuk mengetahui sejauh mana penyebaran atau luasnya dari kanker tersebut akan dilakukan biopsy (pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium) pada bagian tubuh yang dicurigai terkena kanker,”lanjutnya.
Dari hasil pemeriksaan patologi anatomi tersebut maka akan diketahui jenis kanker dan dimana saja penyebarannya. Sehingga memudahkan untuk dilakukan tindakan berikutnya. Jika memang sudah parah maka tindakan terakhir adalah operasi atau reseksi dari bagian usus yang sudah kena kanker. Dan untuk pembuangan kotoran sementara, dibuatkan dubur buatan yang melewati dinding perut pasien. Alangkah baiknya jika kita bisa mencegah sel-sel kanker dalam tubuh kita mengganas dan merugikan diri kita. Lebih baik memelihara tubuh agar tetap sehat dengan pola dan gaya hidup yang sehat. Terkait dengan riwayat keluarga, Anda tak perlu khawatir berlebihan jika berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker usus besar. Menurut Maitriya, faktor genetik memang bisa menjadi penyebab munculnya penyakit ini, tapi faktor tersebut bisa dipersempit. Caranya, ubahlah pola makan Anda dan lakukan deteksi dini. 

Desa Adat Sebagai Benteng Budaya Bali

Pulau Bali yang dikenal masyarakat luas hingga ke manca Negara adalah tempat wisata lengkap. Semua keindahan alam, budaya adat istiadat hingga kerajinannya ada dalam satu pulau kecil menjadikan daya tarik tersendiri untuk wisatawan mampir ke Pulau Seribu Pura ini. Tak hanya cukup sekali tapi bisa dipastikan mereka yang pernah datang ke Bali pasti ingin kembali merasakan wisata yang kental dengan spiritualnya ini. Sehingga jika ditilik dari data statistika pertambahan kunjungan wisatawan, pasti grafiknya naik dan semakin naik.
Tak dipungkiri pertambahan kunjugan wisatawan memberikan banyak keuntungan bagi pengelola bidang pariwisata. Namun ternyata tak semua keberuntungan itu dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Bali. Contohnya adalah masyarakat yang hidup didesa-desa, mereka yang masih menjaga tradisi budaya turun temurun dan juga lingkungannya tak bisa merasakan keberhasilan perkembangan pariwisata. Sehingga, menurut Henky Hermantoro, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Bali, pengaturan tata ruang desa sangat penting sebagai model pengembangan pariwisata berkualitas.
Henky menyebutkan jumlah penduduk miskin di Bali saat ini lebih banyak dari pada masyarakat dengan ekonomi menengah. Dan sebagian besar dari penduduk miskin tersebut sebanyak 64% mereka tinggal di pedesaan. Sayangnya dalam system perencanaan pengembangan pariwisata mereka hanya menjadi pelengkap kebijakan karena masyarakat desa tidak dilibatkan didalamnya. Terbukti dengan pembinaan dan pendampingan, lanjut Henky, sudah ada empat desa di Bali yang bisa dijadikan percontohan dalam hal desa wisata ekologis. Keempat desa ini adalah Tenganan Pegringsingan-Karangasem, Banjar Adat Kaidan-Badung, Dukuh-Sibetan Karangasem dan Nusa Ceningan-Klungkung. “Desa-desa ini sudah mempunyai kajian hukum dan ilmiah tentang penataan ruangnya. Dan mereka juga masuk dalam Jaringan Rkowisata Desa (JED). Sehingga keempat desa ini layak dijadikan percontohan desa wisata untuk seluruh Indonesia,”tutur Henky disela-sela acara Seminar dan Lokakarya (Semiloka), Rabu (23/3) kemarin yang mengambil tema “Mewujudkan Desa Berdaulat Dalam Pembangunan Wisata Melalui Penataan Ruang”. Acara ini didukung oleh Yayasan Wisnu, TIFA dan Bali Desa Wisata Ekologis (DWE).
Dalam kesempatan yang sama, I Gede Ardika, Ketua Pembina Bali DWE (Desa Wisata Ekologis) menyatakan bahwa sudah saatnya masyarakat pedesaan melalui Desa Pekraman harus menjadi desa yang berdaulat. Kerena peranan Desa Pekraman sangat besar, yaitu sebagai tulang punggung pokok yang menjadi benteng dan bisa memegang kendali dalam mengembangkan wisata budaya. Perkembangan wisata berbasis budaya yang dinikmati wisatawan kini sudah sangat pesat dan sudah saatnya untuk kesejahteraan masyarakat Bali. Kebudayaan Bali yang dimiliki masyarakat Bali dijiwai oleh Agama Hindu yang dalam perjalanannya memegang teguh prinsip ajaran Tri Hita Karana. Yang salah satunya adalah menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, artinya manusia tidak boleh serakah dalam memanfaatkan alam. “Manusia harus belajar berkata cukup, tidak perlu berlebihan. Karena yang berlebihan akan merusak,”tegas Ardika.
Seharusnya mulai ditekankan membangun Bali dengan mengangkat wisata budaya untuk sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat Bali. Bukan pariwisata yang menjadi benalu dan merugikan masyarakat Bali pada umumnya. Karena konsep pariwisata budaya adalah mengangkat keunikan sesuai dengan kelokalan namun diikuti dengan kemampuan memilih dan memilah juga mengelola informasi dari luar untuk perkembangan pariwisata. Bali kini, lanjut Ardika, harus mulai membatasi masuknya jumlah wisatawan karena Bali tidak bisa menerima wisatawan dalam jumlah tak terbatas. Jangan lagi mementingkan kuantitas atau seberapa banyak wisatawan yang masuk ke Bali jika factor pendukung masih seperti sekarang ini. Alangkah lebih baiknya jika memikirkan kualitas wisatawan yang masuk ke Bali, yang terpenting adalah aspek sosial budaya dan seberapa intens interaksi wisatawan dengan masyarakat sekitar. “Jangan sampai masyarakat Bali yang menggunakan air dalam segala aspek kehidupannya harus kehilangan sumber airnya. Karena Bali adalah agama tirta, jika sumber air musnah maka habislah Bali,”ujar Ardika melihat eksplorasi air berlebihan untuk dunia pariwisata belakangan ini.
Partisipasi masyarakat desa dalam pengembangan pariwisata budaya sangat dibutuhkan. Dalam semiloka yang dihadiri oleh ratusan peserta naik dari desa pekraman se-Bali, DPRD dan juga perwakilan pemerintah ini diharapkan partisipasi dalam mendukung wisata budaya ekologis. Paradigma yang relevan menurut Prof. Dr. I Gede Pitana, Kepala Badan Pengembangan Pariwisata, adalah dengan jalan ketiga yang terbaik, yaitu Eco Wisata untuk meningkatkan kualitas pariwisata sekaligus pelestarian lingkungan. Pariwisata menjadi bagian terintegral dengan budaya dan adapt istiadat sebelumnya. Sehingga dengan tata ruang ditingkat pedesaan yang sudah dimulai dan segera membidik desa-desa lain harus mempunyai asas legalitas dan didudukkan sebagai rencana rinci tata ruang pedesaan. “Untuk itulah kehadiran pemangku penting desa, yaitu Bendesa adat yang mewakili Desa Pekraman. Agar mulai tergerak dan mau membuat tata ruang desanya dan akan diketahui kelebihan dan keunggulan potensi desa yang mereka miliki,”pungkas Pitana.

Fungsi Keramik Bagi Kesehatan

Kini banyak dijumpai produk kesehatan yang berbahan dasar keramik. Hal ini karena kramik merupakan media yang sangat fleksibel, selain mudah dibentuk juga dapat berfungsi sebagai media kesehatan tubuh manusia.  Meski belum ada literature dan eksperimen yang berkemabang dalam menguji fungsi keramik sebagai mediator untuk kesehatan, namun telah banyak anggapan jika keramik dapat digunakan untuk kesehatan.
I Gusti A. Suradharmika, ST, Kepala UPT-PSTKP Bali yang merupakan anak perusahaan dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) di Jl. By Pass Ngurah Rai, Tanah Kilap, Suwung kauh, Denpasar, Bali, mengatakan jika kandungan keramik yang beragam memiliki fungsi untuk kesehatan. Melalui penelitihan dan pengembangan yang dilakukannya, ditemukan jika keramik memiliki hubungan dengan kesehatan. Salah satu sifat keramik yang forus atau memiliki lubang-lubang yang elastis dapat digunakan sebagai penyaring air yang kotor.  Air yang kotor seperti halnya di daerah tertinggal bisa bersih dan jernih berkat keramik. Bagi keramik yang modern, dapat digunakan sebagai inflantasi tulang buatan yang nantinya dapat dipakai ditubuh manusia sebagai penganti tulang yang retak atau hilang. Selain itu juga dapat digunakan sebagai membran untuk cuci darah. ”Selama ini, melalui penelitian yang dilakukan oleh rekan-rekan kami dipusat telah menemukan adanya fungsi lain dari keramik. Selain sebagai alat untuk membuat souvenir, keramik juga dapat digunakan untuk kesehatan. Keramik yang modern memiliki kemampuan untuk membran cuci darah dan sebagai inflantasi tulang buatan bagi tulang manusia. Namun saat ini memang uji inflantasi tulang buatan tersebut masih diujikan pada tulang tikus, yang memiliki struktur tulang hampir sama dengan manusia,” katanya.
Sementara hubungan keramik sebagai mediator gelombang elektromagnetik, Suradharmika mengkatakan masih belum dapat dipastikan secara ilmiah. Pengaruh keramik dalam mengantar gelombang elektromaknetik untuk kesehatan cukup kecil. Sebab kandungan didalam keramik  banyak didominasi oleh unsur besi, kalium, silikan, magnesium dan aluminium. Yang dalam 2 kali pembakaran, unsur organik telah mati dan menjadi unsur anorganik. ”Dalam kaitan keramik dengan kesehatan, penelitian yang kami lakukan belum sampai pada keramik sebagai media pengantar gelombang elektromagnetik. Dikarenakan dalam suhu 1250 molekul keramik yang organic berubah menjadi anorganik,” jelasnya. (nit)

Loloh Daun CemCem, Pelepas Dahaga


Keanekaragaman hayati di muka bumi ini memberikan banyak kemudahan bagi umat manusia. Ketersediaanya berlimpah di alam seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Kita mengenal yang namanya tanaman herbal, yaitu jenis-jenis tumbuhan yang memiliki khasiat obat. Banyak kita jumpai disekitar kita seperti daun kayu manis, daun jintan, daun kemangi, daun dadap yang hanya dengan cara menumbuk atau merebus langsung bisa dimanfaatkan. Terlebih di Negara tropis seperti Indonesia, tentu menyimpan banyak tanaman herbal yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat keluarga (toga).
Di Bali sendiri masih banyak tersimpan tanaman herbal dan masih banyak pula masyarakat yang menggunakannya sebagai obat. Seperti halnya di Desa Blongbang Bangli Bali, ada jenis tanaman Cemcem yang dimanfaatkan daunnya sebagai loloh (jamu). Pohon yang mirip dengan pohon kedondong tapi tak berbuah ini dimanfaatkan daunnya untuk diminum sebagai pencegah penyakit dalam. Menurut Jero Pitarsi (43th), yang sudah sejak tiga tahun lalu berjualan loloh cemcem, rasa asli daun ini adalah sangat masam. Hampir tidak bisa dirasakan oleh masyarakat awam sehingga untuk menetralkan rasa ditambahkan sedikit garam. Namun, pintarnya Jero Pitarsi melihat peluang pasar sehingga loloh cemcem ini dijualnya dengan menambahkan air dan sedikit daging kelapa muda. Tak ketinggalan pula cabai dan terasi bakar yang sudah dihaluskan atau bisa disebut rujak cemcem.
Kebiasaan masyarakat Bangli mengkonsumsi loloh cemcem tak lepas dari keberadaan tanaman herbal ini sangat banyak.”Tanpa menanam, kita bisa mengambilnya di kebun karena tanaman ini biasa tumbuh liar. Hanya dipetik daunnya tak terlalu banyak, besok bisa tumbuh lagi,”ungkap Jero Pitarsi bersemangat. Hal ini turut membantu perekonomian ibu-ibu disekitar rumah Jero Pitarsi karena permintaan loloh cemcem sudah banyak sehingga membutuhkan daun cemcem dalam jumlah banyak. Terlebih, loloh ini sudah dijual hingga Gianyar dan juga Denpasar sehingga sudah banyak masyarakat di luar Bangli menjadikan loloh cemcem ini sebagai minuman favorit. Rasanya yang manis, asam dan pedas membuat segar tenggorokan apalagi jika diminum dalam keadaan dingin.
Cara pembuatannya pun sangat mudah, ungkap Jero Pitarsi, daun cemcem dicuci bersih kemudian diremas atau dihaluskan dan ditambahkan air hangat sesuai kebutuhan. Jika ingin rasa asli cukup ditambahkan garam tapi jika ingin membuat rujak bisa ditambahkan terasi dan cabai. Meskipun rasa asam yang kuat, tapi jika meminum loloh ini penderita maag tak perlu takut yang penting sudah makan. Menurut Jero Pitarsi, loloh daun cemcem ini dapat membantu menurunkan tensi, melancarkan pencernaan juga baik untuk ibu menyusui.” Setiap hari Minggu selalu membuka stand di taman wisata Kertalangu. Selain dijual sendiri dan memenuhi pesanan kadang juga iku meramaikan pameran,”pungkas Jero Pitarsi.

Pura Agung Jagatnata Saksi Perjalanan Kota Denpasar

 
Provinsi Bali identik dengan kota Denpasar, kota yang menawarkan berbagai kenikmatan baik untuk wisatawan maupun penduduk asli. Namun bagi wisatawan asing, kota Denpasar bukan merupakan pilihan yang menarik untuk berlibur. Tak banyak keindahan alam terpampang disana tapi sebagai pusat hiburan Denpasar tak kalah ingar binger dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bali yang disebut sebagai pulau seribu Pura pun menawarkan wisata budaya peninggalan arsitek kuno. Termasuk Denpasar yang juga mempunyai banyak situs sejarah warisan leluhur, salah satunya adalah Pura Agung Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar.
Jantung kota Denpasar berada di Jalan Gajah Mada, selain sebagai pusat pemerintahan juga sebagai pusat perdagangan. Pada awalnya, Denpasar merupakan pusat pendidikan, banyak pelajar yang datang dari seantero Bali sejak pusat pemerintahan dipindahkan ke Denpasar. Kegiatan terpusat di Denpasar dan muncullah pemikiran untuk membuat satu tempat suci yang terpusat agar mudah untuk melakukan persembahyangan di rahinan besar seperti purnama dan tilem. Sehingga tidak perlu memuja dari merajan masing-masing, tentu ini akan merepotkan bagi perantau karena tidak efektifnya waktu. Ditambah lagi adanya himbauan dari Parisadha pusat yang mengumandangkan lahirnya Puja Tri Sandhya, yaitu bersembahyang tiga kali sehari. “Maka timbul pertanyaan dari tokoh-tokoh agama dimana masyarakat Denpasar yang dominan pendatang ini bersembahyang,”ungkap Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha M.Si
Dari pertanyaan itu, muncullah ide dari tokoh-tokoh agama tersebut untuk membuat pura yang universal. Yaitu, lanjut Direktur Pasca Sarjana UNHI ini, pura yang diperuntukkan memuja Tuhan tanpa melihat silsilah, keturunan atau wangsa dan menjadi pura sungsungan jagat, siapa saja bisa dan boleh bersembahyang disana. Tercetusnya ide ini juga melihat adanya lahan kosong yang tepat berada di pusat kota dan saat itu hanya digunakan sebagai tugu peringatan. Kebetulan, beber Prof. Gunadha, lahan itu milik Kodam kemudian ide dari tokoh agama ini diajukan pada pertemuan dengan masyarakat sekitar yang dihadiri pula Mayor Ida Bagus Pinda. Yang kemudian Mayor Ida Bagus Pinda menghadap Kolonel Supardi untuk membahas masalah penggunaan lahan kosong milik Kodam. Kemudian proposal pembangunan disetujui oleh Brigjen Sukertya karena Kolonel Supardi keburu dipindah tugaskan. “Sejak tahun 1964 perintisan pembanguan pura ini dimulai dan Mayor Ida Bagus Pinda yang menjadi ketua panitianya,”sebut Dosen yang juga Guru Besar di UNHI ini.
Selain Mayor Ida Bagus Pinda, banyak tokoh penting sebagai penggagas pembangunan pura ini seperti Ida Bagus Putu Meregeg nama dari Ida Pedanda Gede Manuaba Sidhanta saat walaka. Yang kemudian menjadi pemangku Pura Jagatnatha dan pedanda hingga lebar pada tahun 2009. Juga I Gusti Ngurah Ketu sebagai ketua panitia pelaksana dan perencanaan pembangunan pura, juga I Gusti Ketut Anggara sebagai sangging (arsitek) pembangunan pura. Proses perjalanan panjang pembangunan pura ini dirasakan warga sekitar pura, dimulai penyuluhan tokoh agama dan tokoh masyarakat Denpasar tentang fungsi dibangunnya pura. Setelah mereka mengetahui tujuan dibangunnya pura ini sebagai sungsungan jagat, masyarakat pun berbondong-bondong membantu pembangunan pura. Tak hanya masyarakat sekitar tapi juga mengerahkan tenaga dari pelajar dari PGA, IHD untuk mengumpulkan batu. Pengalaman ini dirasakan juga oleh Ida Pedanda Istri Oka, putri dari  Ida Pedanda Gede Manuaba Sidhanta yang saat itu juga masih berstatus sebagai mahasiswi. “Pembangunan pura ini dilakukan secara gotong royong, kami harus mengambil batu hingga ke Sempidi,”ungkapnya.
Dalam rapat pertemuan antara tokoh agama, tokoh masyarakat adat terjadi perdebatan panjang pemberian nama pura yang akan digunakan sebagai tempat pemujaan seluruh umat. Akhirnya disepakati nama Jagatnatha, yang artinya jagat adalah dunia dan natha adalah pemimpin. Yaitu menstanakan Tuhan dalam manifestasinya sebagai penguasa dunia, yang dipersempit menjadi stana Tuhan sebagai penguasa pemerintahan karena pada waktu itu pura Jagatnatha berada di pusat pemerintahan. Sebagai arsitek I Gusti Ketut Anggara yang berasal dari Belong, Denpasar merancang pura berbentuk padmasana dan menggunakan batu putih. Kini rancangan padmasana dengan batu putih sudah dipakai dimana-mana sehingga Pura Jagatnatha menjadi yang pertama. Dengan konsep padmasana, jelas Prof. Gunadha, umat menyembah Tuhan secara vertical yaitu kepada Ida Shang Hyang Widi Wasa. Jadi semua umat Hindu dari kasta mana saja, strata social apapun bisa bersembahyang di Pura Jagatnatha. “Konsepnya berbeda dengan pura desa, dalem dan puseh yang dibangun untuk menstanakan Tuhan secara horizontal,”lanjutnya.
Perjalanan pembangunan pura juga mengalami berhenti total karena pada saat itu,ungkap Prof. Gunadha, sedang terjadi pergolakan politik. Sehingga peletakan batu pertama tahun 1964 berjalan perlahan karena sistemnya gotong royong hingga tahun 1967. Berhenti satu tahun karena pergolakan politik dan baru satu tahun kemudian bisa berjalan lagi. Pada akhirnya tahun 1975 sudah berwujud pura dan dilakukan pemlaspas alit kemudian tahun 1978 seluruh bangunan pura selesai dan dilakukan Ngeteg Linggih dan Nanem Pedagingan. “Uniknya dari pembangunan sampai akhir, sangat sedikit biaya yang dikeluarkan dalam bentuk uang. Dan itu pun dana dari pemerintah karena sebagian besar adalah dana punia masyarakat yang tidak hanya bentuk uang tapi juga tenaga, waktu dan barang. Seperti warga bukit pecatu yang menyumbangkan batu putih sebagai bahan dasar pembangunan pura ini. Juga dengan emas yang dijadikan Chyntia merupakan yadnya dari pedagang diseluruh pasar Badung,”tegas Prof. Gunadha yang saat itu bertindak sebagai ketua pelaksana karya Ngeteg Linggih Pura Jagatnatha tahun 1978.
Seiring perkembangan Pura Jagatnatha, awalnya sangat ramai karena menjadi sentral tempat persembahyangan umat Hindu di Denpasar. Pura Jagatnatha sering digunakan oleh kaum cerdik cendekia untuk melakukan aktivitas Nyastra, yaitu aktivitas yang berhubungan dengan dunia seni dan sastra. Seperti diskusi sastra, membaca sloka, mekidung, menggiatkan karya seni seperti megambel, menari tapi kini kegiatan itu sudah tidak ada lagi. Karena masing-masing sekolah sudah mempunyai padmasana sendiri sehingga Pura Jagatnatha hanya digunakan pada saat rahinan purnama, tilem dan hari raya besar. “Diharapkan kegiatan seperti itu tetap dilaksanakan agar anak muda jaman sekarang tetap pada jalan Darma dan Ajeg Bali tetap bisa dipertahankan. Ajeg Bali agar tidak dimulut saja tapi benar-benar dijalankan oleh semua kalangan masyarakat,”harap Prof. Gunadha yang berasal dari Tabanan ini.

Tak Perlu Puasa Demi Dapatkan Tubuh Ramping

Penampilan menarik menjadi hal yang utama bagi sebagian orang terlebih bagi mereka yang bekerja dengan bertemu banyak orang. Segala perawatan dilakukan, keluar masuk salon kecantikan dan pusat kebugaran demi mendapatkan tubuh ramping dan menarik. Bahkan tak cukup perlakuan itu, banyak dari mereka yang berpuasa dan membatasi masuknya asupan makanan. Banyak pihak melirik peluang ini karena hampir sebagian masyarakat ingin mendapatkan bentuk tubuh juga wajah seperti artis idola mereka di layer kaca. Produsen obat pun tak henti-hentinya menggencarkan promosi obat diet dengan segudang khasiat namun masih perlu jeli melihat dampak yang ditimbulkan.
Mekanisme tubuh dalam mencerna makanan yang masuk sudah dirancang sedemikian rupa. Sehingga bagi seseorang yang ingin mendapatkan tubuh ramping tapi tidak makan berjam-jam dan membatasi asupan makanan justru merugikan tubuh. Hal ini, menurut dr. Ossyris Abubakar, M. Biomed., pakar kesehatan yang berkonsentrasi pada anti aging, puasa diluar konteks menjalankan ibadah agama sangat merugikan. Mekanisme pencernaan makanan akan bekerja dan mengosongkan lambung dalam waktu empat sampa enam jam. Jika tidak ada asupan makanan yang masuk setelah mekanisme tersebut dapat merangsang naiknya asam lambung. Maka muncullah sakit maag dan jika sudah terkena akan sulit bagi seseorang untuk lepas karena kebiasaan makan yang tidak teratur. Dan hal ini berpengaruh pula bagi otak, harusnya jika teratur makan glukosa akan teratur pula dikirim ke otak. “Nah, jika perut kosong maka glukosa tidak akan sampai ke otak. Hal ini dapat memicu kelambatan memori atau daya pikir selain itu bisa menyebabkan dehidrasi dan kurang gizi,”terang dokter Osi, sapaan akrabnya.
Diet yang sehat, lanjutnya, seharusnya bukan tidak makan sama sekali atau membatasi makanan yang masuk karena itu salah kaprah. Konsumsi makanan tetap tiga kali sehari dan diisi waktu makan camilan hanya saja perlu diperhatikan makanan yang masuk. Batasi garam, gula, karbohidrat dan minyak karena keempat hal ini yang menyebabkan mekanisme kerja lambung terganggu. Makan tetap tiga kali, porsi nasi dikurangi perbanyak sayur lauk nabati dan hewani pilihan juga wajib makan buah. Camilan yang masuk juga jangan kue kering atau snack ringan tapi pilih buah, kedelai rebus, kacang rebus atau pisang rebus. Jangan lupa dengan konsumsi air putih yang seimbang, minimal dua liter per hari. Hitungan keseimbangan diet sehat yaitu menjaga asupan seperti 50% karbohidrat, 10-15% protein seimbang (nabati dan hewani), kurang dari 30% lemak (batasi konsumsi daging merah dan goring-dorengan karena ini lemak jenuh yang jahat), perbanyak buah dan sayur tinggi serat dan minum sukup air putih. “Porsi vitamin dan mineral cukup dari buah dan sayur, tak perlu konsumsi suplemen berlebihan. Terpenting jangan lewatkan sarapan,”beber dokter yang membuka praktek di rumahnya di Jalan Seroja gang Nyuh Gading No. 9 Denpasar.
Pentingnya asupan gizi yang masuk harus disadari oleh masyarakat, makan bukan hanya mengenyangkan dan memilih yang enak tapi enak di mulut saja. Karena itu, diet tidak perlu mati-matian sampai puasa tidak makan berjam-jam kecuali memang untuk ibadah. Pada saat tidak makan tersebut ada mekanisme balas dendam dalam tubuh. Artinya setelah kita tidak makan, ada rasa lapar dan semua makanan yang ada asal kita makan dan ini memperberat kerjalambung untuk mencerna. Akibatnya asam lambung kembali naik dan banyak yang teserap akhirnya menumpuk menjadi lemak dan tersimpan pada bagian tubuh tertentu. “Selain memperhatikan asupan makan, pola istirahat dan pola olah raga teratur perlu diperhatikan. Olah raga minimal dua hari sekali selama 30 menit, lebih baik olah raga seperti renang, senam lantai atau bersepeda,”pungkas ibu dua anak ini menutup wawancara.

Sindrom Stevenn Johnson

Kesehatan mahal harganya. Ungkapan itu memang benar, jika kita sakit maka biaya yang dikeluarkan untuk berobat sangat besar. Tidak hanya kita saja yang sakit, tapi orang disekitar kita juga ikut menderita karenanya. Jika kita sakit pun tidak boleh mengkonsumsi obat sembarangan, yang bebas dijual di pasaran. Harus diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan obat yang aman. Kalau ada alergi pada obat tertentu, ada baiknya jika memberitahu dokter, agar dipilihkan jenis obat yang tidak menimbulkan alergi bila dikonsumsi.
Alergi sebenarnya adalah respon tubuh untuk menanggapi suatu keadaan yang terjadi dalam tubuh, yang biasanya terkena paparan allergen atau zat toksik yang mengganggu keseimbangan system imun tubuh kita. Efek alergi ini yang paling memberikan respon adalah kulit. Karena kulit adalah bagian yang paling nampak dari tubuh kita. Gejala pada kulit bermacam-macam variasi bentuknya, dari yang berupa bintik-bintik kecil kemerahan sampai kulit melepuh seperti luka bakar. Penyakit yang ditimbulkan oleh alergi obat ada bermacam-macam seperti gatal-gatal dikulit yang kadang juga berisi cairan, bibir dan mata kemerahan dan bias meleuas keseluruh tubuh. Alergi pada obat tidak sama pada semua orang, tergantung pada kekebalan tubuh masing-masing. Reaksi ini dapat disebabkan oleh obat seperti aspirin, indometacin, penicillin, penggunaan antibiotika, penurun panas, anti kejang, obat penyakit jiwa dan jamu.
Menurut Dr. Laksmi Duarsa,Sp.KK, gejala tersebut diatas dapat digolongkan pada Sindrom Steven Johnson. Sindrom tersebut merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir mata dan selaput lendir mulut. Karenanya bisa menyebabkan komplikasi berupa radang kornea (keratitis), menyerang bagian dalam bola mata bahkan sampai berakibat kebutaan. Selain itu, bisa juga menyebabkan hepatitis, nephritis (radang ginjal), perdarahan salura cerna, arthritis (radang sendi) dan pneumonia. “Jika terlambat penanganannya, pasien akan mengalami kematian. Karena banyak kehilangan cairan dan gangguan keseimbangan elektrolit,”ungkap ibu tiga anak ini.
Gejala awal Sindrom Steven Johnson memang sulit dibedakan dengan gejala sakit radang tenggorokan seperti biasa. Seperti demam tinggi, nyeri kepala, batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan pernafasan serta perasaan malas. Kemudian disertai degan timbulnya trias kelainan pada kulit, selaput lender dan mata. Jika timbul alergi dan perasaan tidak enak setelah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, segera periksakan lagi ke dokter. Agar penanganannya lebih dini sehingga tidak menimbulkan keparahan lebih lanjut. Setelah alergi dapat diobati dan dinyatakan sembuh, harus lebih dijaga konsumsi obat-obatannya. “Meskipun sudah sembuh, kulit akan tetap berwarna cokelat kehitaman. Tetapi masih bisa diterapi dengan penanganan secara kosmetik,”pungkas istri dari dr. Yoga Bharata, Sp.BKBD ini.